Translate

Sabtu, 28 Mei 2011

Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan kemaslahatan

Terdapat kaidah syar’iyyah: “Apabila ada dua kerusakan saling berhadapan, maka dihindari yang paling besar bahayanya dengan melakukan yang paling ringan (bahayanya).”

Dan juga kaidah yang semisalnya: “Menghindari/menolak kerusakan lebih diutamakan daripada usaha mendatangkan kemaslahatan.”

Apabila suatu kerusakan berhadapan dengan suatu kemaslahatan, maka secara umum, menolak kerusakan itu lebih didahulukan (kecuali jika kerusakan itu tidak dominan). Karena sesungguhnya perhatian pembuat syari’at terhadap perkara yang dilarang itu lebih keras daripada terhadap perkara yang diperintahkan. (Al-Asybaah wan Nazhaa`ir, karya As-Suyuuthiy hal.87)

Dalil-dalil yang mendukung kaidah ini

Di antaranya adalah hadits yang telah disepakati oleh Al-Bukhariy dan Muslim -dengan lafazh Muslim- dari hadits ‘A`isyah ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang Al-Jadr (batu), apakah itu termasuk rumah (Ka’bah)?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Mengapa mereka tidak memasukkannya ke dalam (bangunan) Ka’bah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya kaummu tidak menyempurnakan bangunannya karena minimnya pendanaan.” Aku berkata: “Lalu kenapa keadaan pintunya ditinggikan?” Beliau menjawab: “Kaummu melakukan itu agar mereka bisa memasukkan orang yang mereka kehendaki dan mencegah orang yang mereka kehendaki; dan kalau bukan karena kaummu masih dekat dengan masa jahiliyyah dan aku khawatir hati-hati mereka akan mengingkarinya: sungguh aku berpendapat untuk memasukkan Al-Jadr (batu pondasi) -yang dibangun oleh Nabi Ibrahim- ke dalam bangunan rumah (Ka’bah). Dan aku akan menempelkan pintunya dengan bumi.”

Dan Al-Bukhariy telah membuat satu judul bab atas hadits ‘A`isyah ini, dia berkata: “Bab: Meninggalkan Sebagian Usaha Dan Upaya Karena Kekhawatiran Masih Rendahnya Pemahaman Sebagian Manusia Tentangnya Lalu Mereka Terjerumus Ke Dalam Perkara Yang Lebih Dahsyat Darinya.”
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath: “Diambil faidah dari hadits ini (yaitu): meninggalkan kemaslahatan demi keamanan dari terjerumus ke dalam kerusakan.”
Kemaslahatan Melunakkan Hati Manusia
Berkata Syaikhul Islam ketika menerangkan sebagian perkara mustahab:
“Merupakan perkara yang disukai bagi orang yang mempunyai tujuan untuk mempertautkan (menyatukan) serta melunakkan hati-hati (muslimin) dengan meninggalkan perkara-perkara mustahab ini, karena kemaslahatan menyatukan dan melunakkan (hati-hati muslimin) dalam agama itu lebih besar daripada kemaslahatan mengerjakan perkara semisal itu.
Sebagaimana Nabi meninggalkan/menggagalkan rencana perombakan bangunan Ka’bah guna menjaga hati-hati (muslimin). Demikian juga pengingkaran Ibnu Mas’ud terhadap ‘Utsman karena menyempurnakan shalat di dalam safar, kemudian ia tetap shalat di belakang ‘Utsman dengan sempurna. Dan mengatakan: “Perselisihan itu adalah jelek.” (Majmu’ Fatawa 22/407)

Dan beliau berkata di tempat yang lain: “Mengerjakan suatu amalan boleh jadi termasuk perkara mustahab dan meninggalkannya pun terkadang demikian dengan memperhatikan kerajihan (yang paling besar/kuat) dari kemaslahatan mengerjakannya dan meninggalkannya, sesuai dengan dalil-dalil syar’iyyah.
Kadang-kadang seorang muslim dibolehkan meninggalkan amalan yang mustahab, jika dalam mengerjakannya akan didapati kerusakan yang rajih (kuat) atas kemaslahatannya. Sebagaimana Nabi telah meninggalkan membangun rumah di atas pondasi Nabi Ibrahim…, maka Nabi meninggalkan perkara tersebut yang menurut beliau hal itu lebih afdhal di antara dua perkara, karena perkara yang menghalanginya yang lebih rajih, yaitu: keislaman bani Quraisy yang masih dini, yang apabila perkara ini dilaksanakan malah akan membuat mereka lari, maka dengan ini kerusakan yang akan ditimbulkan lebih rajih atas kemaslahatan yang hendak dicapai.

Antara yang Afdhal dan Mafdhul
Oleh karena itu para imam-seperti Al-Imam Ahmad dan yang lainnya- menyukai agar seorang imam meninggalkan apa yang menurutnya afdhal dalam rangka menjaga hati para makmum, misalnya: baginya lebih afdhal memisahkan dalam shalat witir dengan mengucapkan salam pada raka’at genap kemudian shalat satu raka’at witir, sementara ia mengimami suatu kaum yang hanya mengetahui pelaksanaan shalat witir dengan cara menyambungnya (tidak memisahkannya). Maka apabila ia tidak dapat melangkah kepada yang lebih afdhal dalam pelaksanaan shalat witir tersebut, jadilah kemaslahatan yang dihasilkan dengan mencocoki mereka dengan menyambung shalat witir tersebut menjadi lebih rajih daripada kemaslahatan memisahkan shalat witir tersebut bersamaan adanya kebencian mereka untuk shalat di belakangnya.
Demikian juga bagi orang yang berpendapat merendahkan suara ketika membaca basmalah dalam shalat lebih afdhal (utama) daripada mengeraskannya, sedangkan makmum tidak sependapat dengannya. Maka melakukan tindakan yang menurutnya mafdhul (tidak lebih utama) demi kemaslahatan mencocoki dan menjaga hati para makmum merupakan hal yang rajih atas kemaslahatan mendapatkan keutamaan tersebut. Tindakan ini diperbolehkan dan baik.” (Majmu’ Fatawa 24/195-196)
Kaidah Ini Tidak Menafikan tentang Memperhatikan Sunnah dan Mengamalkannya
Semua contoh di atas yang berdasarkan kaidah tersebut tidaklah menafikan prinsip yang telah dijelaskan, yaitu: selalu memperhatikan sunnah dan berupaya untuk mengamalkannya serta bersemangat atasnya.
Karena kaidah itu hanyalah dipakai untuk persoalan insidental, bukan untuk membunuh dan mengubur sunnah demi kaidah tersebut.

Maka apabila ada orang yang memandang, bahwa sunnah merupakan penghalang dari penghalang-penghalang di jalan yang lurus -menganggap sunnah itu mendatangkan perselisihan dan pertentangan-, sesungguhnya kita bantah ucapan tersebut: bahwa meninggalkan sunnah secara total akan mendatangkan kerusakan yang besar, dengan perbuatan itu akan hilang syari’at Allah ini sedikit demi sedikit.

Sungguh telah berkata ‘Abdullah bin Mas’ud: “Akan datang suatu kaum yang meninggalkan sunnah seperti ini -yakni persendian jari-jemari- dan jika kalian membiarkan mereka, maka mereka akan datang dengan membawa malapetaka yang lebih besar. Sesungguhnya tidak ada seorang Ahli Kitab pun, kecuali merekalah yang pertama kali meninggalkan sunnah dan yang paling akhir mereka tinggalkan adalah shalat. Dan sendainya mereka tidak mau menghidupkannya, pastilah mereka akan meninggalkan shalat.” (Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa`iy dalam Syarh I’tiqaad Ahlil Hadiits 1/91)
Pemahaman yang Benar untuk Kaidah Ini
Dengan demikian, maka pemahaman yang benar untuk kaidah ini adalah:

Apabila pengamalan suatu sunnah dari sunnah-sunnah yang ada akan diikuti oleh suatu mafsadah yang lebih besar daripada kemaslahatannya, maka pengamalan sunnah tersebut ditangguhkan pada situasi dan kondisi yang demikian, dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Wajib memberi nasihat dan mengingatkan tentang keagungan dan kebesaran kududukan sunnah.

  2. Menasihati agar tidak meninggalkan sunnah selama-lamanya/terus-menerus secara berkesinambungan.

  3. Apabila telah diketahui keadaan orang yang senang mengacau atas ditegakkannya sunnah, bahwasanya semata-mata penolakannya itu didasari oleh kebencian terhadap sunnah, mungkin karena kefanatikan kepada suatu madzhab, atau karena mengikuti manhaj tertentu, maka sesungguhnya sunnah itu tetap ditegakkan -walaupun membangkitkan kemarahan orang tersebut dan kemarahan seribu orang seperti dia- karena telah tsabit (tetap) dari Nabi bahwasanya beliau bersabda”…barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih dari shahabat Anas bin Malik)

Sedangkan maslahat besar yang kita inginkan hanyalah kasih sayang di antara ahlus sunnah dan mencegah terjadinya kebencian dan permusuhan di antara mereka. Maka ketika seseorang atau suatu jama’ah membenci sunnah, maka gugurlah kasih sayang terhadap mereka dan wajib menjauhi serta membenci mereka karena Allah Ta’ala.
Berbeda halnya dengan orang yang bodoh, seperti kebanyakan orang awam, mereka meninggalkan sunnah dengan bentuk penolakan karena kejahilannya terhadap orang yang menegakkan sunnah tersebut, atau terjerumus ke dalam sesuatu dari lafazh-lafazh yang dilarang. Maka dituntut dalam hal ini, bagi orang yang dipercaya dari kalangan ahlul ‘ilmi (‘ulama), untuk mengajari serta membantu orang tersebut dengan cara penuh kelemah-lembutan. Setelah itu, jika dia masih terus berada di atas kejahilannya, maka gabungkanlah dia bersama teman-temannya yang sebelumnya dari kalangan ahlul bid’ah. Wallaahul Musta’aan. Wallaahu A’lamu bish Shawaab.
Diambil dari kitab Dharuuratul Ihtimaam bis Sunanin Nabawiyyah.
Referensi : Buletin Islam Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-20 Tahun ke-2 / 09 April 2004 M / 19 Shafar 1425 H 

http://adiabdullah.wordpress.com/2008/02/05/apabila-suatu-kerusakan-berhadapan-dengan-kemaslahatan/

kemaslahatan

Kemaslahatan Adalah Keberpihakan Agama diturunkan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan, kepentingan dan kebahagiaan seluruh manusia. Segala aturan agama sepenuhnya untuk kebaikan manusia itu sendiri. Kebahagiaan yang bersifat lahir batin ini dicerminkan Islam dalam ajaran-ajarannya. Oleh karenanya Fikih yang menjadi acuan bagi umat Islam untuk mengatur kehidupan publik (fikih siyasah) harus juga mengacu kepadan kebaikan bersama dalam dunia publik yang lebih luas.
Yang menjadi pertanyaan kemudian, apa itu fikih siyasah? Secara sosiologis, fikih siyasah adalah segala ketentuan yang secara praksis dapat mendekatkan masyarakat kepada kemaslahatan hidup dan menjauhkan mereka kepada kehidupan yang membawa kemudharatan dan kesengsaraan meskipun tidak ada ketentuan syara’ atau nash yang mengaturnya (ma kana fi’lan yakunu ma;ahu al-nas aqraba ila al-sholah wa ab’ada ‘ani alfasad wa in lam yadho’hu al-shra’u wa la nazala bihi wahyun).
Ibnu Qayyim dalam I’lamu al-Muwaqqi’in menyatakan bahwa asa dari syariah adalah kemaslahatan untuk semua manusia di dunia dan akhirat. Perubahan hukum yang terjadi atas dasar perubahan zaman dan tempat bertujuan untuk menjamin syariah agar dapat mendatangkan kemaslahatan.
Dia menambahkan, tujuan syariat setidaknya ada lima yaitu memelihara agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Segala sesuatu yang masuk dalam lima kategori tersebut adalah kemaslahatan. Sebaliknya, segala sesuatu yang bertentangan dengan lima hal tersebut adalah kerusakan. Dan cara menghilangkan kerusakan adalah dengan menggunakan kemaslahatan.
Lalu siapa yang mesti bertanggung jawab mewujudkan kemaslahatan ini? Semua individu (warga negara) bertanggung jawab. Tapi dalam konteks nation state negara atau pemerintah adalah institusi yang paling bertanggung jawab untuk mewujudkan kemaslahatan publik ini. Konsep clean government and good governance adalah prasyarat mutlak dalam mewujudkan kemaslahatan. Diantaranya syarat perwujudan kemaslahatan tersebut adalah partisipasi masyarakat yang besar, kesediaan pemerintah untuk membuka diri, supremasi hukum, transparansi kebijakan publik, akuntabilitas dan
birokrasi yang efektif dan efisien. [ ]
http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=186

Minggu, 22 Mei 2011

Mencari Sosok Pemimpin yang Ideal

Ibnu Taimiyyah perna menegaskan dalam bukunya “Al-Siyaasah al-Syar'iyyah” Bahwa karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan.

----------

Oleh: Amin, S.Pd. *

Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubenrnur dan Wakil Gubernur Propinsi maupun Kepala Daerah Kabupaten / Kota terasa gaungnya di mana-mana. Segenap komponen dan masyarakat di wilayah kota-kota di negeri ini menanti hari - H pelaksanaannya, dengan harapan bahwa pilkada tersebut betul-betul merupakan momentum positif bagi masa depan pembangunan dan pengembangan di mana calon pemimpin tersebut di pilih. Dan tidak kalah pentingnya adalah perhelatan pemilihan anggota legislative dan pemilihan presiden pada tahun 2009 nanti.

Oleh sebab itulah, semua pihak berharap pilkada, pileg dan pilpres dapat berlangsung secara adil, demokratis dan sukses. Karena, perhelatan akbar tersebut dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi rakyat secara langsung, memiliki beberapa makna penting yang harus dipahami bersama.

Pertama, pemilihan langsung merupakan bagian dari proses demokrasi. Demokrasi telah menjadi pilihan dalam seluruh proses dan mekanisme politik yang terjadi pada era reformasi di negara kita dewasa ini. Dalam hal ini yang perlu dipahami adalah bahwa demokrasi bukanlah tujuan, tetapi merupakan alat atau sarana untuk mewujudkan cita-cita bangsa menuju masyarakat yang madani. Namun demikian, di dalam demokrasi tersimpan nilai-nilai substansial yang harus terimplementasikan, seperti toleransi, kesamaan di muka hukum, dan lain sebagainya.

Kedua, dengan pilkada, pileg dan pilpres juga diharapkan mampu memperkuat integritas bangsa di tingkat daerah. Oleh sebab itu, segenap ekses negatif yang menyertainya, harus diantisipasi sedemikian rupa, sehingga sebelum, selama dan setelah pelaksanaan pemilihan tersebut, integrasi masyarakat di daerah bertambah semakin erat dan menguat. Bukan sebaliknya, justru menciptakan bibit-bibit perpecahan yang kontra-produktif bagi masa depan pembangunan daerah dan bangsa ini.

Ketiga, pilkada juga merupakan momentum untuk memperbaharui komitmen kita dalam dunia perpolitikan di daerah. Dengan adanya pilkada akan memberikan peluang yang sama bagi para kandidat untuk memenangkannya dengan cara-cara yang fair, demokratis, santun, dan meninggalkan praktik-praktik politik busuk yang bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Keempat, dengan terselenggaranya pilkada secara langsung seperti yang akan kita jalani, maka diharapkan akan memunculkan kepemimpinan yang legitimatif di daerah yang diridhai oleh Allah SWT sehingga masyarakat dapat menjadi lebih sejahtera, karena kepemimpinannya mengikuti ajaran dari Allah SWT dan Rasul-Nya yang telah membawa agama Islam di dunia ini.

Islam adalah agama yang sempurna, di antara kesempurnaan Islam ialah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik yang berhubungan dengan Allah Swt (Hablum minallah) maupun hubungan dengan manusia (Hablumminannas), termasuk di antaranya masalah kepemimpinan di pemerintahan.

Kepemimpinan di satu sisi dapat bermakna kekuasaan, tetapi di sisi lain juga bisa bermakna tanggungjawab. Ketika kepemimpinan dimaknai sebagai kekuasaan, Allah SWT.mengingatkan kita bahwa hakikat kekuasaan itu adalah milik Allah SWT. Allah SWT yang memberi kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah pula yang mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya (lihat : al-Qur’an surat Ali Imran : 26).

Adanya kesadaran seorang mu’min terhadap hal ini memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadiannya, ketika ia memegang kekuasaan, ia akan tetap bersikap rendah hati, tidak ada keangkuhan dalam dirinya sedikit pun, tidak akan menyelewengkan kekuasaannya dalam bentuk apa pun, dan ia gunakan kekuasaannya itu sebagai alat untuk menghambakan dirinya dan alat untuk mencapai ridha Allah SWT. Sehingga ia akan betul-betul melaksanakan amanah dan tanggung jawab jabatannya seoptimal mungkin untuk kepentingan masyarakat, bukannya untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya pribadi maupun golongan-golongan tertentu saja. Karena, dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan adanya pemimpin yang mengatur, membawahi, dan mengarahkan kehidupan masyarakat itu. Pemimpin harus menjadi abdi masyarakat. Dia harus melayani dan menjadi fasilitator bagi keperluan-keperluan rakyat.

Pemimpin dapat diibaratkan sebagai seorang "sopir" bus yang membawa penumpang-penumpangnya pada suatu tujuan dengan selamat dan memuaskan. Sebagai seorang sopir pastilah harus menguasai dan ahli dalam menyopir serta segala seluk-beluknya, baik itu keteknisian atau perbengkelannya dan mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh polisi pada rambu-rambu lalu-lintas. Sedangkan kondektur bus adalah tim ahli yang juga dibutuhkan partisipasinya, yang membantu supir dalam mengontrol keadaan bus dan mendata jumlah penumpang serta menjaga barang-barang bawaan penumpang. Dalam hal ini kondektur diumpamakan dewan-dewan legislatif yang wajib berpartisipasi selalu membantu program-program kerja pemimpin dalam membawa bangsa dan rakyatnya. Kaca spion, lampu, rem dan lainnya merupakan peralatan yang harus ada dan lengkap untuk menempuh perjalanan. Peralatan-peralatan seperti kaca spion, setir, klakson dan lainnya itu seperti perundang-undangan yang disepakati bersama dan layak untuk dipakai.

Mana mungkin penumpang akan naik sebuah bus yang tak ada kaca spion, rem, lampu dan peralatan-peralatan lainnya? Peralatan-peralatan itu juga bisa di-“stel” atau di- "utak-atik" dengan selera masing-masing menurut mode dan selera yang sama-sama disepakati. Kalau bus dengan peralatan-peralatan yang telah disepakati bersama dapat menghantarkan penumpang ke tujuannya, mengapa tidak perundang-undangan yang disetujui bersama dapat menjadikan rakyat kepada tatanan kehidupan yang makmur dan sejahtera? Supir yang sudah ahli dengan peralatan-peralatan yang lengkap, belum menjadi jaminan untuk sampai ke tujuan kecuali dengan do'a mengharap lindungan Allah SWT. Tak lebihnya juga, seorang pemimpin dengan dewan-dewan legislatifnya serta rakyat belum menjamin kemakmuran dan kesejahteraan kecuali dengan ridho dan hidayah Allah SWT. Disinilah pentingnya ketaqwaan itu, dengan kepatuhan dan ketaatannya kepada yang Maha Kuasa. Pemimpin hanya bisa mengusahakan selamat sampai tujuan, namun yang menentukannya tetaplah Allah SWT.

Selanjutnya, bentuk jalan yang berliku-liku, berlubang, tikungan atau mulus-lurus dan tak putus-putus merupakan kodrat yang ada pada alam ini. Itulah ibaratnya sunnatullah yang telah Allah tentukan kepada makhluk-Nya. Ada kanan pastilah ada kiri. Lurusnya jalan pastilah ada tikungan. Mulusnya jalan pastilah ada lubang-lubangnya. Inilah ketentuan-ketentuan Allah yang tidak mungkin kita lari dari-Nya. Supir pun harus bisa bersikap luwes dan seimbang menyikapi tuntutan para penumpang yang dianggap sehat dan baik. Tuntutan penumpang pastilah tidak jauh dari tuntutan keselamatan bersama. Begitu juga, seorang pemimpin haruslah seimbang dengan tuntutan-tuntutan rakyat yang tidak menyalahi konstitusi demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Tuntutan rakyat biasanya lahir karena melihat adanya kepincangan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut.

Begitulah sepatutnya yang diharapkan dari kehidupan pada diri seorang pemimpin dalam membawa ummat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan bagi hidup dirinya dan rakyat yang dipimpinnya.

Dalam Islam, hampir semua ulama menyepakati bahwa pemimpin adalah abdi masyarakat. Sebab, kepemimpinan sesungguhnya adalah suatu amanah (titipan) yang setiap saat harus dipertanggungjawabkan dan diambil wewenangnya. Amanah itu diperoleh dari Allah SWT lewat pemilihan yang dilakukan oleh manusia, kecuali para Nabi dan Rasul yang langsung dipilih oleh Allah. Oleh karena itu, dalam melaksanakan amanah, manusia diharapkan senantiasa berbuat baik dan bertanggung jawab. Jika manusia bisa menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah, maka mereka tidak akan berebut kekuasaan dengan temannya sendiri, atau memaksakan diri untuk menjadi pemimpin demi keuntungan materi semata.

Dewasa ini kepemimpinan cenderung dimanfaatkan untuk pemuasan hak pribadi, yang ironisnya "menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan"- Mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak, melupakan "amanah kepemimpinan" yang diamanahkan atas dirinya, melanggar hak-hak konstitusi yang sudah disepakati bersama, juga kolusi untuk kepentingan kekuatan kepemimpinannya itu sendiri. Ibnu Taimiyyah perna menegaskan dalam bukunya “Al-Siyaasah al-Syar'iyyah” Bahwa karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanatkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme dan keaktifan. Peka dalam menerima solusi-solusi yang membangun atau menerima kritik-kritik yang menuju kepada perbaikan.

Substansi kepemimpinan dalam perspektif Islam merupakan sebuah amanat yang harus diberikan kepada orang yang benar-benar "ahli", berkualitas dan memiliki tanggungjawab yang jelas dan benar serta adil, jujur dan bermoral baik. Inilah beberapa kriteria yang Islam tawarkan dalam memilih seorang pemimpin yang sejatinya dapat membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, harmonis, dinamis, makmur, sejahtera dan tentram.

Disamping itu, pemimpin juga harus orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Karena ketaqwaan ini sebagai acuan dalam melihat sosok pemimpin yang benar-benar akan menjalankan amanah. Bagaimana mungkin pemimpin yang tidak bertaqwa dapat melaksanakan kepemimpinannya dengan baik? Karena dalam terminologinya, taqwa diartikan sebagai melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa berarti ta'at dan patuh, yakni takut melanggar atau mengingkari dari segala bentuk perintah Allah SWT..

Manusia diciptakan oleh Alah SWT di dunia ini dengan misi untuk mengabdi atau beribadah dan menjadi khalifah di bumi Allah SWT ini. Misi kekhalifahan adalah misi yang sangat mulia, karena ia menjadi sarana guna melakukan hal-hal yang bermakna dan menyejahterakan sesamanya. Oleh sebab itu, amanah menjadi hal sangat vital yang harus ditanamkan dan dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas kepemimpinan seseorang.

Amanah juga menjadi salah satu prinsip kepemimpinan yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. Sebagai pemimpin umat, Nabi SAW memiliki empat ciri kepemimpinan: shidiq (jujur), fathanah (cerdas dan berpengetahuan), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (berkomunikasi dan komunikatif dengan bawahannnya dan semua orang).

1. S,idq (benar), sebuah sifat dasar yang mesti dimiliki oleh Rasulullah SAW, dan mesti dimiliki pula oleh setiap pemimpin. Ia harus selalu berusaha menempatkan dirinya pada posisi benar, memiliki sifat benar, berada di pihak kebenaran, dan memperjuangkan kebenaran dalam lingkungan yang menjadi tanggungjawabnya. Ia akan selalu berdiri tegak di atas kebenaran, bergerak mulai dari titik yang benar, berjalan di atas garis yang benar, dan menuju titik yang benar, yaitu rida Allah swt. Kebenaran yang dimiliki seorang pemimpin merupakan awal dari segala kebaikan, dan kebohongan yang dimiliki seorang pemimpin adalah awal dari segala kebokbrokan dan kehancuran.

2. Amanah (penuh tanggungjawab), sebuah sifat dasar kepemimpinan Rasul yang berarti jujur, penuh kepercayaan, dan penuh tanggungjawab. Apabila mendapat suatu tanggungjawab, ia kerahkan segala kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya, ia yakin bahwa dirinya mas-ul (harus mempertanggungjawabkan) kepemimpinannya. Pemimpin yang amanah juga memiliki sifat tabah, sabar dan tawakal kepada Allah swt., ia selalu menghadapkan dirinya kepada Allah melalui doa, dan menerima dengan penuh keridaan terhadap apa pun keputusan akhir yang ditetapkan oleh Allah swt. atas dirinya.

3. Tabligh (menyampaikan yang harus disampaikan). Seorang rasul sebagai pemimpin memiliki keterbukaan dalam berbagai hal, tiada sifat tertutup pada dirinya, karena ketertutupan akan menimbulkan keraguan pihak lain, dan melahirkan fitnah dalam kepemimpinannya. Sebagai pemimpin seorang Rasul senantiasa menyampaikan kebenaran yang diterimanya lewat wahyu, betapa pun beratnya tantangan dan risiko yang akan diterimanya. Ia berpegang pada pedoman “Katakan yang benar itu walaupun pahit kau rasakan”.

4. Fathanah (cerdik), bahwa seorang Rasul sebagai pemimpin memiliki kemampuan berfikir yang tinggi, daya ingat yang kuat, serta kepintaran menjelaskan dan mempertahankan kebenaran yang diembannya. Seorang pemimpin mesti basthah fi al-ilmi (memiliki pengetahuan yang luas) dan pemahaman yang benar mengenai tugasnya, kemampuan managerial yang matang, cepat dan tepat dalam menetapkan suatu keputusan, kemampuan yang tinggi dalam menetapkan makhraj (solusi) dari suatu kemelut dalam lingkup tanggungjawabnya.

Sifat-sifat Nabi SAW itu tecermin pada kebijakan dan tingkahlaku beliau sehari-hari, baik sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat dan negara. Sifat kepemimpinan beliau dan Khulafaur Rasyidin dapat dijadikan cermin oleh semua pemimpin. Mereka senantiasa mengabdi, menerima keluh kesah, memfasilitasi, dan siap menjadi "budak" rakyatnya, bukannya menjadi “tuan” bagi masyarakatnya.

Seorang pemimpin yang ideal tentu saja adalah yang selalu berpegang teguh pada akhlak kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin. Kisah Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Azis yang rela tidak makan sebelum rakyatnya makan, rela tidak tidur sebelum rakyatnya tidur, tidak mau menggunakan fasilitas negara di luar jam kerja untuk kepentingan keluarga, memberikan contoh hidup sederhana dan dermawan, adalah sebuah tipe kepemimpinan yang ideal. Mereka mempunyai moralitas dan budi pekerti yang luhur. Oleh karenanya, hal itu patut dan wajib untuk dijadikan rujukan oleh calon-calon pemimpin kita yang akan bertarung di perhelatan pilkada tahun ini.

Selain itu, seorang pemimpin yang ideal haruslah mampu bekerja secara profesional, visioner, kreatif dan punya kemampuan berstrategi, berani, serta mampu menjadikan team work yang dipimpinnya menjadi solid dan berkualitas. Dengan kata lain, kita sangat mengharapkan adanya pemimpin yang mampu menjadikan masyarakat berubah menjadi lebih baik dalam segala sisi kehidupannya yang diberkahi oleh Allah SWT karena adanya pemimpin yang mampu mendorong masyarakatnya menuju peningkatan penghambaan umat manusia kepada Sang Khaliq.

Ada baiknya juga, jika kita belajar dari isi pidato Khalifah Abu bakar Assiddiq ra ketika beliau dilantik menjadi pemimpin umat sepeninggalnya Rasulullah SAW, yang mana inti dari isi pidato tersebut dapat dijadikan pedoman dalam memilih profil seorang pemimpin yang baik. Isi pidato tersebut diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut :

"Saudara-saudara, Aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku. Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. 'Orang lemah' diantara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. 'Orang kuat' diantara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya. Janganlah diantara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Swt. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan Sholat semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua".

Ada 7 (tujuh) poin yang dapat diambil dari inti pidato khalifah Abu Bakar ra tersebut, yaitu :

1. Sifat Rendah Hati. Pada hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dengan kedudukan rakyatnya. Ia bukan orang yang harus terus diistimewakan. Ia hanya sekedar orang yang harus didahulukan selangkah dari yang lainnya karena ia mendapatkan kepercayaan dalam memimpin dan mengemban amanat. Ia seolah pelayan rakyat yang diatas pundaknya terletak tanggungjawab besar yang mesti dipertanggungjawabkan. Dan seperti seorang "partner" dalam batas-batas yang tertentu bukan seperti "tuan dengan hambanya". Kerendahan hati biasanya mencerminkan persahabatan dan kekeluargaan, sebaliknya keegoan mencerminkan sifat takabur dan ingin menang sendiri.

2. Sifat Terbuka Untuk Dikritik. Seorang pemimpin haruslah menanggapi aspirasi-aspirasi rakyat dan terbuka untuk menerima kritik-kritik sehat yang membangun dan konstruktif. Tidak seyogiayanya menganggap kritikan itu sebagai hujatan atau orang yang mengkritik sebagai lawan yang akan menjatuhkannya lantas dengan kekuasaannya mendzalimi orang tersebut. Tetapi harus diperlakukan sebagai "mitra" dengan kebersamaan dalam rangka meluruskan dari kemungkinan buruk yang selama ini terjadi untuk membangun kepada perbaikan dan kemajuan. Dan ini merupakan suatu partisipasi sejati sebab sehebat manapun seorang pemimpin itu pastilah memerlukan partisipasi dari orang banyak dan mitranya. Disinilah perlunya social-support dan social-control. Prinsip-prinsip dukungan dan kontrol masyarakat ini bersumber dari norma-norma islam yang diterima secara utuh dari ajaran Nabi Muhammad Saw.

3. Sifat Jujur dan Memegang Amanah. Kejujuran yang dimiliki seorang pemimpin merupakan simpati rakyat terhadapnya yang dapat membuahkan kepercayaan dari seluruh amanat yang telah diamanahkan. Pemimpin yang konsisten dengan amanat rakyat menjadi kunci dari sebuah kemajuan dan perbaikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya saat dia berada dikantornya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi dirumah. Seketika itu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya dari sebab apa sang ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap. Dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.

4. Sifat Berlaku Adil. Keadailan adalah konteks nyata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan tujuan demi kemakmuran rakyatnya. Keadilan bagi manusia tidak ada yang relatif. Islam meletakkan soal penegakan keadilan itu sebagai sikap yang essensial. Seorang pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-adilnya bukan sebaliknya berpihak pada seorang saja-berat sebelah. Dan orang yang "lemah" harus dibela hak-haknya dan dilindungi, sementara orang yang "kuat" dan bertindak zhalim harus dicegah dari bertindak sewenang-wenangnya.

5. Komitmen dalam Perjuangan. Sifat pantang menyerah dan konsisten pada konstitusi bersama bagi seorang pemimpin adalah penting. Teguh dan terus Istiqamah dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Pantang tergoda oleh rayuan dan semangat menjadi orang yang pertama di depan musuh-musuh yang hendak menghancurkan konstitusi yang telah di sepakati bersama. Bukan sebagai penonton di kala perang.

6. Bersikap Demokratis. Demokrasi merupakan "alat" untuk membentuk masyarakat yang madani, dengan prinsip-prinsip segala sesuatunya dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Dalam hal ini pemimpin tidak sembarang memutuskan sebelum adanya musyawarah yang mufakat. Sebab dengan keterlibatan rakyat terhadap pemimpinnya dari sebuah kesepakatan bersama akan memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi baik buruknya bisa ditanggung bersama-sama.

7. Berbakti dan Mengabdi kepada Allah SWT. Dalam hidup ini segala sesuatunya takkan terlepas dari pantauan Allah SWT, manusia bisa berusaha semampunya dan sehebat-hebatnya namun yang menentukannya adalah tetap Allah SWT. Hubungan seorang pemimpin dengan Tuhannya tak kalah pentingnya; yaitu dengan berbakti dan mengabdi kepada Allah SWT. Semua ini dalam rangka memohon pertolongan dan ridho Allah SWT semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya terutama dalam menegakkan sholat lima waktu misalnya, seorang pemimpin akan mendapat hidayah untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina tersebut, karena dengan sholat yang baik dan benar menurut tuntunan ajaran Islam dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar (lihat Q.S.Al Ankabuut : 45 ). Sifat yang harus terus ia aktualisasikan adalah ridho menerima apa yang dicapainya. Syukur bila meraih suatu keberhasilan dan memacunya kembali untuk lebih maju lagi, sabar serta tawakkal dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan, serta sabar dan tawakkal juga saat menghadapi kegagalan.

Dari rangkaian syarat-syarat pemimpin diatas sedikit dapat kita jadikan acuan dalam memilih sosok pemimpin, dan masih banyak lagi ketentuan-ketentuan pemimpin yang baik dalam perspektif Islam yang bisa kita gali baik yang tersurat maupun tersirat di dalam Al Qur'an dan Hadist-hadist Nabi SAW.

Jadi pemimpin seperti apa yang sebaiknya diangkat di era seperti sekarang ini? Secara umum Al-Qur'an sudah memberikan gambaran kriteria pemimpin yag harus dipilih, yaitu seperti yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh" (QS Al-Ambiya' :105). Jadi yang mendapat mandat mengurusi manusia beserta isinya dimuka bumi ini sesuai rekomendasi Allah SWT ternyata hanyalah orang-orang shaleh, bukan orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi yang pola fikir dan perilakunya tidak diridhai oleh Allah SWT.

* Amin, S.Pd; seorang aktivis dakwah, tinggal di Kota Tarakan
 

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=733

Kekuasaan Itu Harus Direbut

Namun demikian, bukan berarti kaum muslimin harus alergi terhadap kekuasaan, jabatan, dan harta. Bahkan, dalam keadaan tertentu kekuasaan harus direbut. Dalam kondisi tertentu, kepemimpinan harus diminta....

----------

Utbah bin Rabiah datang menemui Rasulullah saw. Setelah berbincang panjang lebar, tokoh Quarisy itu segera berkata, “Wahai Muhammad, sekarang dengar baik-baik. Aku akan menawarkan beberapa hal. Mungkin engkau bisa menerima salah satu diantaranya. Kalau dengan dakwahmu itu engkau ingin kekayaan, maka kami akan kumpulkan harta untukmu sehingga engkau menjadi orang terkaya diantara kami.

Kalau engkau ingin kehormatan dan kemuliaan, engkau kami angkat sebagai pemimpin. Kami tak akan memutuskan persoalan tanpa persetujuanmu. Kalau engkau ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkanmu sebagai raja…” Peristiwa ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq seperti dituturkan Ibnu Hisyam dalam sirah-nya.

Jika misi utama Rasulullah sekedar menjadi penguasa, maka tawaran tokoh Quraisy itu merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Namun, dalam ucapan Utbah terkandung syarat, semua akan diberikan kalau dakwah Nabi memang bertujuan untuk itu semua. Utbah ingin menegaskan, kalau semua seruan dakwah Nabi selama ini hanya untuk merebut kekuasaan dan mengumpulkan harta, maka tidak perlu susah-susah. Kafir Quarisy akan memberikannya asal seruan tauhid dihentikan.

Tawaran menggiurkan seperti ini tak mustahil akan dihadapi aktivis dakwah di masa sekarang. Bentuknya bisa beragam. Bisa berbentuk jabatan, uang, atau iming-iming janji. Kaum Muslimin dalam kedudukannya sebagia pimpinan, kader, atau simpatisan harus mampu menempatkan posisi. Karena tujuan dakwah memang bukan kekuasaan, harta atau jabatan. Ketiga komponen tersebut hanyalah sarana. Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau meminta kepemimpinan (imarah). Jika engkau menerima kepemimpinan atas dasar pemintaan, niscaya akan membebanimu. Jika kepemimpinan itu diberikan bukan atas dasar ambisi, engkau akan ditolong (dalam melaksanakannya).” (HR. an-Nasa’i).

Namun demikian, bukan berarti kaum muslimin harus alergi terhadap kekuasaan, jabatan, dan harta. Bahkan, dalam keadaan tertentu kekuasaan harus direbut. Dalam kondisi tertentu, kepemimpinan harus diminta.

Tentu saja, kemauan untuk mejadi pemimpin hendaknya tak berdasarkan ambisi, tapi sebuah kewajaran. Ia harus tumbuh dari sesuatu yang wajar, bukan rekayasa dengan memanipulasi kelemahan orang lain. Karenanya, sebaiknya permintaan untuk dijadikan pemimpin, bukan ditujukan kepada manusia, tapi kepada Allah. Allah berfirman, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertaqwa,” (QS. Al-Furqan: 74).

Dalam bentuk yang lebih konkret Nabi Yusuf mencontohkan. Dengan terang-terangan dia menyatakan keinginannya untuk menjadi pemimpin. Bahkan, untuk itu ia menyampaikan beberapa kelebihan dan keahlian yang ia miliki. Pernyataan Nabi Yusuf itu diabadikan dalam Al-Quran, “Yusuf berkata ‘Jadikanlah aku bendahara negara karena aku orang yang pandai (hafizh) dan berpengalaman (‘alim)’,” (QS. Yusuf:55)

Jadi dalam keadaan tertentu kepemimpinan harus diminta. Tapi, siapakah yang berhak memintanya? Kalau kita perhatikan perjalanan sejarah kejayaan dan keabadian umat manusia, kita akan mendapatkan kenyataan: sebagian besar para Nabi adalah pemimpin. Sebut saja misalnya, Adam, Nuh, Ibrahim, Sulaiman, Yusuf dan Muhammad saw. Mereka adalah pemimpin.

Namun, kita juga menemukan realita, para Nabi dan pemimpin itu tak langsung lahir sebagai pemimpin. Mereka lahir dan besar dalam kancah pergerakan. Mereka menjadi pemimpin melalui proses. Dengan demikian, sangat tak bisa diterima kalau ada yang ujug-ujug datang menawarkan diri jadi pemimpin sementara selama ini tak ada kiprah yang ia lakukan.

Para Nabi itu menjadi pemimpin setelah melalui proses pematangan. Sebelum menjadi pemimpin Bani Israel, Nabi Musa harus menjadi aktivis penentang kezaliman Fir’aun. Ia harus menjadi buronan dan hidup di negeri rantau. Ia sempat menjadi penggembala kambing.

Sebelum menjadi penguasa Mesir, Nabi Yusuf adalah korban kecemburuan. Ia dibuang ke dalam sumur, menjadi budak yang diperjualbelikan. Bahkan, ia sempat mendekam dalam penjara. Realita ini juga yang menjelaskan mengapa Rasulullah saw tak menerima begitu saja tawaran Utbah bin Rabiah. Kekuasaan tak bisa berdiri sendiri. Ia memerlukan dukungan, proses, dan harakah (pergerakan).

Namun, yang disebut harakah (pergerakan) tak boleh diam. Tak boleh berjalan ditempat. Ia harus bergerak. Tak sepantasnya seorang aktivis hanya puas dengan memimpin harakah. Ada waktunya mereka tampil menjadi pemimpin yang lebih besar. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya hingga mereka mampu menjadi penguasa.

Kita sering menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar. Tapi kita jarang berpikir untuk menjadi ‘amir (penguasa) atau menyiapkan ‘amir. Padahal amar ma’ruf akan bisa berlangsung dengan efektif, jika didukung oleh ‘amir. Bagaimana mungkin kita bisa memerintah kalau tidak ada pemerintah?

Sekarang peluang terbuka. Pertanyaannya siapkah kita bersaing? Siapkah kita mengalahkan lawan? Pertempuran yang kita hadapi sekarang bukan hanya menghadapi cacian, makian, dan hinaan seperti yang dialami Rasulullah saw pada periode Mekkah. Kita berhadapan bukan dengan orang-orang seperti kaum kafir Quarisy yang tak rela kekuasaannya direbut. Ditengah kita menyusup keturunan Abdullah bin Ubay, sang munafik yang merasa tersaingi. Di depan kita berdiri orang-orang Yahudi yang tak pernah rela Islam tegak di muka bumi.

Memang, jika tiba saatnya kemenangan pasti datang. Tapi bukan tugas kita untuk menunggu. Kemenangan itu harus disambut. Kekuasaan itu harus direbut.

Sabili No 13 Th. XI 


http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=665

Ikhwanul Muslimin, Organisasi Pergerakan yang Ditakuti oleh Kekuatan Sekuler

Hay'ah Ikhwan Al-Muslimin (Organisasi Persaudaraan Umat Islam) didirikan Shekh Hasan Al-Banna di kota Ismailiyah (sebuah kota di pinggir Terusan Suez), Maret 1928, beberapa bulan setelah ia lulus dari Darul Ulum. Darul Ulum adalah sebuah sekolah tinggi pendidikan guru di Kairo, dan Ismailiyah adalah kota di mana ia ditempatkan oleh Departemen Pendidikan Mesir untuk menjadi guru di sebuah SMP.

----------

Hampir setiap muncul tindak kekerasan di negara-negara Islam (Arab), orang selalu mengaitkannya dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi pergerakan Islam yang lahir diMesir, sekitar tujuh dekade lalu. Lalu, benarkah Al-Ikhwan mengajarkan tindak kekerasan? Dan apa hubungan Hammas dan gerakan Hasan At-Turabi di Sudan dengan organisasi Al-Ikhwan? Berikut sebuah tulisan yang membahas secara ringkas tentang Al-Ikhwan sebagai sebuah organisasi pergerakan Islam.

Sewaktu kekhilafahan Islam jatuh ke tangan Bani Umaiyah pada 661 M, dengan Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah pertama, minimal muncul dua sikap umat dalam menghadapi kenyataan itu. Pertama, sikap menolak. Kedua, sikap menerima dengan reserve.

Sikap pertama didasari pada kenyataan bahwa Muamiyah mendapat kekuasaan dengan cara yang tidak sah. Di antara mereka, ada yang menolaknya dengan vokal, yang disertai dengan perencanaan untuk meluruskan jalannya. Dan ada yang menolaknya dengan sikap pelarian diri kepada pengkajian masalah-masalah Islam dan menghindari hal-hal yang membawa bentrokan dengan pemerintah.

Sikap kedua adalah menerima pemerintahan Muamiyah sebagai kenyataan. Sekalipun tidak melambangkan citra Islam politik, minimal ia telah mampu mempesatukan umat di bawah sebuah negara yang berdaulat. Ia juga tidak melarang umat untuk meyakini rukun iman dan menjalankan rukun Islam yang lima. Sikap kedua ini membentuk teologi Al-Murji'ah, yang seterusnya menjadi teologi Ahl Sunnah wal Jamaah, untuk membedakannya dengan teologi kaum Khawarij dan Syi'ah. Perangkat-perangkatnya selama berabad-abad diisi oleh sayap kedua dari sikap pertama, yaitu pihak yang menyibukkan diri untuk mengembangkan warisan agama dan intelektual Islam dengan menjauhi konfrontasi langsung dengan pemerintah yang berkuasa.

Aliran pertama yang bersifat vokal dan bahkan mengikutsertakan gerakan di bawah tanah untuk menyusun kekuatan dalam rangka membentuk sebuah pemerintahan yang lebih Islami, banyak mendapat kesulitan dari pemerintah yang berkuasa. Tokoh -tokohnya diburu-buru dan ajarannya ditolak. Inilah cikal bakal pergerakan Islam yang mempunyai pendukung sepanjang sejarah Islam sampai ke abad modern. Organisasi Al-Ikhwanul al-Muslimun -- yang biasa disingkat dengan Al-Ikhwan -- adalah sebuah pewaris dari Islam pergerakan ini dengan bentuknya yang khas di zaman modern.

Hay'ah Ikhwan Al-Muslimin (Organisasi Persaudaraan Umat Islam) didirikan Shekh Hasan Al-Banna di kota Ismailiyah (sebuah kota di pinggir Terusan Suez), Maret 1928, beberapa bulan setelah ia lulus dari Darul Ulum. Darul Ulum adalah sebuah sekolah tinggi pendidikan guru di Kairo, dan Ismailiyah adalah kota di mana ia ditempatkan oleh Departemen Pendidikan Mesir untuk menjadi guru di sebuah SMP.

Setiap hari -- seusai mengajar, ia mengunjungi warung kopi untuk berdialog dengan masyarakat. Malam harinya, ia salat berjamaah di masjid terdekat, dan kemudian seringkali melanjutkan pembicaraannya di warung kopi.

Pada masa-masa liburan panjang setiap musim panas, ia menghabiskan waktu bepergian ke berbagai kota dan desa di Mesir, untuk mengajar masyarakat di rumah, di atas kendaraan, di warung kopi, atau masjid. Tubuhnya yang kekar (sekalipun dengan postur yang agak pendek dibanding rata-rata orang Mesir), serta penampilannya yang menarik, dan lidahnya yang fasih, memang mendukung Al-Banna untuk menjadi seorang public figure.

Dalam pertumbuhan awalnya, Al-Ikhwan lebih memusatkan usaha untuk pembentukan kepribadian masyarakat. Ini terlihat dari beberapa prinsip yang diajarkan Al-Banna yang merupakan petunjuk harian Al-Ikhwan. Prinsip-prinsip itu antara lain berbunyi: "Lakukanlah salat bila anda mendengar azan, bagaimana pun kondisi anda pada waktu itu. Baca Alquran, renungkan dan dengarkan, serta selalulah mengingat Allah. Jangan anda membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tak berguna."

Selanjutnya, Al-Banna juga mengatakan: "Jangan banyak bersilat lidah dalam masalah apa pun, karena itu tidak bermanfaat. Jangan banyak berhura-hura dan bersantai, karena perjuangan bangsa perlu kesungguhan. Jauhilah membicarakan keburukan orang di belakangnya. Jangan mengejek organisasi-organisasi atau pergerakan-pergerakan dengan tidak adil. Berusahalah untuk selalu ramah bila anda bertemu teman-teman Al-Ikhwan, sekalipun ia tidak membuat inisiatif, karena idiologi kita berdiri di atas tiang ilmu pengetahuan dan cinta kasih.

Bantulah orang lain semaksimal mungkin agar ia dapat memanfaatkan waktunya, dan bila anda mempunyai proyek untuk diselesaikan, maka selesaikanlah proyek itu."

Prinsip-prinsip tersebut tak lain adalah sebagian dari prinsip-prinsip Islam, yang disimpulkan dalam bahasa sederhana agar dapat dilaksanakan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Intinya adalah bagaimana seorang muslim dapat menjalankan ajaran Islam secara murni dan konsekuen dalam kehidupan modern.

Prinsip-prinsip itu dijalankan melalui jalur organisasi dari ranting, cabang, wilayah (yang tersebar di seluruh pelosok kota dan desa di Mesir), dan sampai ke pusat, yang secara organisatoris selalu dievaluasi dari waktu -waktu. Di sini kelihatan sekali ciri pergerakan dari organisasi Al-Ikhwan.

Setelah pemantapan kepribadian, maka program Al-Ikhwan selanjutnya adalah pembentukan masyarakat Islam yang menjalankan syariat Islam. Bagi Al-Ikhwan, Islam adalah jalan hidup menyangkut individu, masyarakat, negara, hubungan internasional dan seterusnya. Al-Banna menegaskan, "Ia (Islam -- Red) adalah sikap moral, kekuatan, kasih sayang dan keadilan. Ia adalah pengetahuan, hukum, ilmu dan pengadilan. Ia adalah materi, kekayaan, usaha dan kebutuhan. Ia adalah jihad dan dakwah atau antara dan gagasan. Ia juga akidah yang benar dan ibadah yang betul, ibarat satu koin dengan dua wajah."

Seperti program pembentukan kepribadian, maka Al-Ikhwan juga bertekad untuk melaksanakan program sosial politik secara bertahap. Dalam Anggaran Dasar (Nizam Asasi) Al-Ikhwan, antara lain menyebutkan: Al-Ikhwan senantiasa mengutamakan kemajuan bertahap dalam pembangunan, usaha produktif, dan kerja sama dengan para pecinta kebaikan dan kebenaran. Al-Ikhwan tak ingin melukai siapa pun, apa pun agama, ras dan kebangsaannya.

Kegiatan Al-Ikhwan mulai menarik perhatian pemerintah dan dunia luar, setelah mereka memindahkan pusat kegiatan dari Ismailiyah ke Kairo. Apalagi setelah Al-Banna mengirim surat kepada raja Mesir, Faruq (1936) dan sejumlah menteri kabinet, agar melaksanakan syariat Islam dan meninggalkan cara hidup yang tidak Islami.

Situasi di Mesir pada 1930-1940-an, seperti kebobrokan moral, penetrasi budaya asing, pemerintah yang tidak tegas, dominasi Inggris yang begitu kuat dalam negeri, dominasi perusahaan -perusahaan asing, dan lain-lain, telah bersaham dalam membentuk sikap militansi Al-Ikhwan. Sebagai gerakan dan idiologi, sikap Al-Ikhwan ini berhubungan erat dengan krisis intelektual, sosial, ekonomi dan politik yang melanda Mesir sejak abad ke-19.

Krisis-krisis ini sebagiannya adalah hasil dari berbagai kebijakan yang ditempuh oleh para penguasa Mesir sebelum ini, dalam bidang pendidikan, hukum dan politik melalui suatu proses westernisasi. Negara sejak abad 19 mengirim misi pendidikan ke luar negeri dan mengundang perancang dan tenaga ahli Barat ke dalam negeri. Sistem pendidikan Barat yang sekuler barangsur-angsur menggeser pendidikan tradisional, dan hukum sekular Barat menggantikan hukum syariat yang telah berlaku selama berabad-abad.

Politik pemerintah semakin cenderung untuk memelihara kepentingan Barat. Terusan Suez sebagai jalan perhubungan penting antara Barat dan Timur berada di tangan asing. Di Palestina kekuatan Zionis internasional semakin mengkristal untuk mendirikan negara nasional Yahudi yang mengancam eksistensi umat Islam dan bangsa Arab. Sementara itu, para penguasa Arab lebih banyak membuat kebijakan yang dapat mempertahankan kepentingan mereka daripada kepentingan rakyat. Di pihak lain, Al-Azhar sebagai lembaga keagamaan tertua di dunia Islam bersikap melempem dan sulit untuk dijadikan panutan bagi sebuah pembaruan yang sejalan dengan semangat Islam.

Sebagai organisasi pergerakan, Al-Ikhwan tak mau membiarkan kondisi yang tidak sejalan dengan tuntutan Islam itu berjalan terus. Melalui media dan sarana yang dimilikinya (surat kabar, majalah, pamlet, surat terbuka, pidato, khutbah, rapat umum dan lain-lain), organisasi ini memberikan imbauannya kepada rakyat dan pemerintah agar mengambil garis Islam dalam semua kebijakan.

Kalau kemudian pemerintah melihat Al-Ikhwan sebagai ancaman, bukan semata karena imbauan kebaikan itu, tapi lebih karena sebagai organiasasi massa, Al-Ikhwan dapat memaksakan kehendaknya. Usaha yang dilakukannya bukan hanya bidang penerangan, pendidikan dan kebajikan semata, tetapi juga mencakup usaha -usaha ekonomi yang menjadi urat nadi organisasi, latihan bela diri dan bahkan pasukan para militer. Dalam perang melawan sekutu Inggris-Israel pada tahun 1948, misalnya, pasukan sukarelawan Al-Ikhwan terbukti tangguh dalam mematahkan kekuatan musuh.

Sekitar Perang Dunia II, telah terjadi hubungan turun naik antara pemerintah dan Al-Ikhwan. Situasi genting yang terjadi di Mesir akibat perang, antara lain pembunuhan terhadap tokoh -tokoh politik (termasuk pembunuhan Perdana Menteri An-Nuqrasyi), membuat keadaan semakin sulit bagi Al-Ikhwan. Tokoh-tokoh Al-Ikhwan ditangkap, aset organisasi disita, dan berbagai media massa mereka diberangus. Kejadian seperti itu terjadi berulang kali. Dari tahun 1940 sampai Desember 1948, pergerakan ini dilarang seutuhnya. Selanjutnya pada malam hari tanggal 12 Februari 1949, Al-Banna ditembak mati oleh orang yang tak dikenal sewaktu ia sedang duduk di mobilnya di depan gedung Syubban Al-Muslimin di Kairo.

Al-Banna meninggal, tetapi gagasan dan karya organisasinya diteruskan oleh generasi penerus. Tak lama setelah kepergian Al-Banna, kepemimpinan Al-Ikhwan digantikan oleh Hasan Al-Hudhaibi, seorang bekas jaksa. Menjelang Revolusi tahun 1952, sebagian kekayaan Al-Ikhwan mulai dikembalikan dan kebebasan mereka dipulihkan.

Pada mulanya, Jamal Abd Nasir dan Anwar Sadat sendiri adalah termasuk aktivis Al-Ikhwan. Namun kemesraan antara Al-Ikhwan dan Nasir serta Sadat segera berakhir, tak lama setelah yang bertama menjadi presiden. Di bawah pemerintahan Jamal Abdul Nasir, Al-Ikhwan mengalami penderitaan kembali. Para pengikutnya dipenjarakan dan beberapa di antaranya bahkan ada yang digantung. Buku-buku dan penerbitan mereka dilarang terbit.

Akibat dari kondisi yang kurang menguntungkan itu, beberapa tokoh Al-Ikhwan banyak yang terpaksa lari ke luar negeri. Ada yang ke negara-negara Arab dan lainnya ke Eropa dan Amerika. Namun di mana pun mereka berada, mereka tidak melupakan perjuangan organisasi dan selalu melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kondisi yang ada.

Dari situ, meski di dalam negeri (Mesir) Al-Ikhwan banyak mengalami hambatan, gagasan Al-Ikhwan tetap berkembang. Apalagi banyak di kalangan idiolog-idiolog Al-Ikhwan yang berbakat menulis dalam berbagai bidang. Sebut, misalnya 'Audah, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Muhammad Al-Ghazali, Abdullah As-Samman, As-Siba'i, Mushthafa Ramadan, Fathi Yakan dan lain-lain.

Kemudian muncul dialog generasi kedua yang lebih berbentuk akademis semisal Al-Qardhawi, 'Isa 'Abduh, Al-Jerisyi, At-Turabi, Asy-Syalabi dan seterusnya. Karya-karya mereka banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. Dengan demikian, Al-Ikhwan telah memberikan sahamnya untuk sebuah pemahaman Islam pergerakan di seluruh dunia.

Di beberapa negara Arab pada waktu ini, seperti Sudan, Yordania, dan Palestina, kegiatan politis Islam Al-Ikhwan tampak menonjol. Di Sudan, berkat jasa Dr Hasan At-Turabi, idiologi terkenal Al-Ikhwan, beberapa program Islamisasi telah dapat dilaksanakan dalam negara, sekalipun mendapat tekanan yang berat dari negara-negara Barat, dan bahkan Mesir sendiri sebagai negara tetangga dan tanah kelahiran Al-Banna.

Di Yordania beberapa wakil Al-Ikhwan dapat duduk dalam parlemen dan beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Di Palestina, di balik gerakan Al-Hammas yang menantang negara sekular yang ingin didirikan oleh Arafat juga dikabarkan berdiri aktivis -aktivis Al-Ikhwan.

Hay'ah Ikhwan Al-Muslimin sebenarnya tidak lain dari sebuah organisasi pergerakan Islam yang berusaha menerapkan cara-cara hidup yang Islami, terutama kehidupan sosial-politik, melalui sebuah program yang selalu direvisi dari waktu ke waktu. Karena dominasi kebudayaan sekular yang begitu besar di dunia Islam, termasuk sekularisasi dalam pemerintahan, organisasi ini sering berada dalam konflik dengan kjekuatan-kekuatan sekular yang ada dalam masyarakat. Teologi mereka yang tidak memisahkan antara ijtihad dan jihad, agama dan politik, membuat nama mereka sering dihubungkan kepada aksi politik dan tindak kekerasan, baik secara sah atau tidak. (RioL)

Rifyal Ka'bah MA, pengamat politik Islam
[swaramuslim]


http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=534

Semua Lembaran Hidup as-Syahid adalah Kenangan yang Tak Terlupakan

Ada kesabaran dan keteguhan menakjubkan di balik tutur katanya. Nada bicaranya menunjukkan kekokohan dan ketegaran jiwa, kata-katanya menyiratkan kehalusan batin. Lebih penting dari itu, ketawadhuannya begitu kentara dari cara ia bicara, berdialog dan menjawab pertanyaan.

----------

Rosya: “Semua Lembaran Hidup as-Syahid adalah Kenangan yang Tak Terlupakan

Ada kesabaran dan keteguhan menakjubkan di balik tutur katanya. Nada bicaranya menunjukkan kekokohan dan ketegaran jiwa, kata-katanya menyiratkan kehalusan batin. Lebih penting dari itu, ketawadhuannya begitu kentara dari cara ia bicara, berdialog dan menjawab pertanyaan.

Ketika kami katakan kepadanya, “Di belakang lelaki agung pasti ada wanita mulia,” ia segera menyang-gahnya,”Tidak, demi Allah, jika wanita itu ada di balik kesuksesan dr. Rantisi hingga ia meraih syahadah, maka tak lain dia adalah ibunya-Allahuyarhamuha- yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan. Beliaulah yang menanam makna kemuliaan dan ketinggian harga diri di jiwa As-Syahid.” Berikut ini wawancara kami dengan Ummu Muhammad, panggilan akrab Nyonya Rosya.

Bisa diceritakan, bagaimana awal mula perkenalan Anda dengan as-Syahid?

Waktu itu saya lulus SMU dan belum bersinggungan dengan pergerakan Islam (harakah Islamiyah), meski saya tergolong gadis yang cukup istiqamah, dalam artian saya belum pernah berpacaran layaknya muda-mudi lainnya. Saya sebenarnya berobsesi untuk meneruskan studi ke perguruan tinggi, tapi ayah tidak mengizinkan karena meneruskan keperguruaan tinggi berarti saya harus pergi ke Mesir.

Ketika Abu Muhammad (Abdul Aziz ar-Rantisi) datang melamar, saya lihat beliau memiliki kriteria-kriteria pria yang diidamkan oleh semua gadis. Dan saya saksikan sendiri, belum pernah semasa hidup kami, beliau menyakiti saya baik dengan perkataan atau tingkah laku, meski beliau terus berinteraksi dengan banyak orang.

Bagaimana dengan cobaan yang dihadapi as-Syahid?

Secara mental saya cukup siap ketika beliau beberapa kali dipenjara, baik di masa intifadhah kesatu atau intifadhah kedua. Tentu saja pada awalnya memang saya rasakan berat, tapi yang kemudian menjadikan saya tsabat (teguh) adalah keyakinan saya bahwa Allah-lah yang telah menakdirkan demikian dan Dialah yang menjamin keberlangsungan hidup kami, baik dengan kebe-radaannya di tengah-tengah kami atau pun tidak.

Jalan yang ditempuh as-Syahid sepanjang hayatnya, tidak kurang dari tiga puluh tahun, adalah berjihad, hanya semata-mata mengharap ridha Allah. Dan itu adalah jalan yang benar dan inilah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang tiada tandingnya.

Ini memang bukan jalan yang dihiasi dengan bunga-bunga indah menawan, bahkan sebaliknya penuh dengan berbagai rintangan dan menuntut pengorbanan, namun cita-cita dan tujuan yang diidamkan membuat manusia mudah untuk melewati semua kepahitan itu. Dan ini adalah Sunnatullah dalam berdakwah sejak zaman nabi Adam hingga kita sekarang ini.

Bagaimana dr. Rantisi mendidik anak-anaknya?

Beliau tidak terus-menerus larut dalam kesibukannya yang super padat itu. Kadang-kadang kalau rumah sedang penuh dengan para wartawan, dalam kondisi seperti itu, ketika ia hendak mengambil sesuatu dari kamar dan melihat anak-anak atau ibu mertua atau salah seorang putrinya, spontan ia menebar senyumnya lalu menanyakan keadaan mereka. Perhatiaannya terhadap hal-hal sepele di sekitarnya punya saham besar dalam membentuk kepribadian saya agar juga peka dan peduli terhadap orang-orang di sekitar.

Beliau juga sangat gemar bersilaturahmi meski hanya dengan menelpon, di samping juga sangat menyayangi anak-anak, terutama cucu-cucunya yang sudah berjumlah 14 orang, seperti kepada Ahmad (21 tahun) yang juga cedera bersamanya dalam usaha pembunu-hannya satu tahun yang lalu, sangat dia cintai. Anak kami, Ahmad, ini pun bertekad untuk mengikuti jejak ayahnya.

Bagaimana as-Syahid memerankan multi perannya sebagai bapak, suami, kakek dan mujahid?

As-Syahid adalah sosok pribadi Islam yang paripurna yang tercermin dalam firman-Nya,”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Beliau selalu berupaya mencontoh Rasulullah SAW dalam berperilaku, bersosial, hidup berkeluarga dan dalam berjihad. Dan semua ini beliau anggap sebagai ibadah. Ia senantiasa berbuat baik kepada ibunya, juga dalam bergaul dengan istri, saudara-saudarinya, memuliakan putri-putrinya, bermain dengan cucu-cucunya. Ia bersikap tegas dan keras terhadap orang-orang kafir serta musuh-musuhnya. Tetapi ia tetap tawadhu dengan siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Kejadian apakah yang membuat Anda tidak bisa melupakannya?

Semua lembaran hidup as-Syahid adalah kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Di antara semua itu ada satu kasus yang benar-benar tak akan pernah saya lupakan selamanya. Ini saya hadi-ahkan untuk Anda para suami. Suatu ketika saya menata dan membersihkan rumah, secara tak sengaja saya menyenggol kaca televisi hingga layarnya pecah dan sama sekali rusak. Saya panik dan bingung, karena setelah suami dibebaskan dari penjara, kondisi ekonomi kami tidak memungkinkan untuk membeli televisi baru.

Ketika Abu Muhammad mendata-ngiku, dia menanyakan apa yang menyebabkan aku tampak bingung. (Setelah mengetahui sebabnya), sambil tersenyum beliau menghi-burku, “Semua hal pasti ada batas waktunya…Qaddarallah maa syaa’a fa’al (jika Allah telah mentakdirkan pasti akan terjadi).”

Apa yang Anda rasakan ketika menerima berita mati syahidnya dr. Rantisi?

Seperti lazimnya perasaan setiap istri kehilangan suami. Akan tetapi saya tidak kehilangan kendali diri, saya tidak kehilangan iman dan ketsi-qahan saya kepada Allah. Ini adalah karunia dari-Nya. Setelah beberapa menit dari kepergiannya dari rumah, saya mendengar ledakan bom, hati saya mengatakan, pasti suami saya yang kena sasarannya.

Untuk mendapat kepastian segera saya mendengarkan radio Shautul Aqsa. Waktu itu sedang adzan Isya. Selepas adzan langsung diberitakan pengeboman mobil as-Syahid serta syahidnya pengawal beliau saat itu juga. Adapun beliau sendiri sedang mendapat perawatan darurat. Saya tak henti-henti bertahmid kepada Allah, lalu berwudhu dan shalat Isya serta berdo’a agar Allah memberikan ketsabatan kepadaku dan kepada anak-anak kami, karena Dialah yang menjanjikan kepada hamba-Nya, jika mereka berdo’a pasti akan dikabulkan-Nya.

Apa yang diwasiatkan beliau kepada Anda sebelum kepergiannya?

Sepanjang hayatnya –selama tiga puluh tahun-ia habiskan untuk berjihad, merealisasikan manhaj Allah dalam semua sisi kehidupannya; dalam bermuamalah, berakhlak, berjihad, beribadah, bersosial, berpolitik, berinteraksi dengan yang lain. Ini adalah wasiat paling besar dan di jalan inilah kami akan terus melaju.

Apakah As Syahid pernah meng-ungkapkan perasaannya telah dekat kepada kematiannya? Beliau belum pernah mengung-kapkannya kepada kami. Tapi setiap detik, setiap jam, setiap hari beliau memang sudah bersiap-siap untuk itu. Ini tentu saja karena beliau beruswah kepada Rasulullah Sha-lallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Apa kalimat terakhir yang beliau katakan? Dan bagaimana kondisi jiwanya ketika itu?

Beliau sangat gembira sekali dan kondisi spiritualnya, sebagaimana juga biasanya, sangat prima. Kalimat terakhir yang ia katakan kepada kami, “Semoga Engkau masukkan kami ke surga-Mu, wahai Allah, inilah puncak harapanku”

Apa cita-cita tertinggi as-Syahid?

Cita-cita tertingginya adalah agar Allah mengaruniainya kesyahidan. Tidak lebih dari itu.

Semua syuhada memiliki kara-mah. Kira-kira apa karamah as-Syahid?

Darah yang terus mengalir hingga dua puluh empat jam dari kesyahi-dannya. Tercium wangi kesturi dari seluruh anggota tubuhnya. Ketegaran dan keteguhan batin yang saya dan anak-anak saya rasakan dan senyum manis yang terpancar dari gigi serinya, saya rasa itu adalah merupa-kan karamah beliau.

Apa pesan Anda kepada wanita-wanita Palestina yang menunggu giliran ditinggal mati syahid oleh suami, bapak dan anak mereka ?

Saudari tercinta, peran seorang wanita tidak saja bermula dari sekarang. Akan tetapi peran kalian sejalan dengan peran kaum lelaki, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung-jawaban terhadap apa yang dipim-pinnya…seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya…” Saya telah persembahkan kepada Anda sekalian prototipe yang sangat memukau dalam setiap sisi kehidu-pan. Sekarang giliran Anda sekalian.

Setelah suami dan anak Anda syahid maka giliran Andalah menyem-purnakan peran Anda (dengan berjihad) dalam kehidupan Anda sekalian. Semoga Allah memberikan keteguhan hati, mengayomi dan memberikan taufik kepada Saudari. Semoga Ia mengarahkan jalan yang Saudari tempuh dan menyatukan Saudari bersama orang-orang yang Saudari kasihi di surga-Nya kelak. *

(Heri Efendi/Hidayatullah, diterjemahkan dari koran Afaq Arabia, 13 Mei 2004).

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=427

Kunci Sukses adalah Kemauan dan Menolong Diri Sendiri



12985903441804419336
Metamorfose kupu-kupu, image from http://biologigonz.blogspot.com
Banyak orang yang menginginkan kesuksesan dan banyak orang yang menganggap sukses dalam hidup tergantung pada kerja keras, nasib baik, keberuntungan, keadaan, ada tidaknya mereka memiliki koneksi dan lain-lain dan ironisnya banyak orang yang tidak tahu apa makna dari sukses itu sendiri.
Sesungguhnya sukses itu apa sih…?
Sebagian orang memaknai sukses sebagai sebuah ‘tujuan’, seperti memiliki pekerjaan atau jabatan yang baik dan mapan, memiliki kekayaan yang serba kecukupan, memiliki teman yang banyak yang siap membantu dan masih banyak lainnya.
Padahal semua pendapat itu sesungguhnya bukanlah ’sukses’ yang sebenarnya, itu semua merupakan ‘hadiah’ dari sebuah kesuksesan, lalu apa yang dimaksud dengan sukses itu sendiri?
Sesungguhnya sukses itu adalah sebuah ‘proses’, sekali lagi sebuah ‘proses’ bukan ‘tujuan‘, sementara apa yang kita maknai dari sukses seperti memiliki pekerjaan/jabatan, harta berlimpah dan lain lain itu sebenarnya hanya merupakan ‘hadiah’ dari sebuah kesuksesan (sengaja saya ulangi penulisannya untuk kita menyadarinya).
Banyak orang yang dinilai sudah meraih kesuksesan, tapi tidak menikmati kesuksesan yang ‘dianggap’ sudah diraihnya itu, seperti contoh; seorang yang kaya raya namun hidupnya menderita secara bathin, selalu ketakutan akan sesuatu, selalu cemas dan lain sebagainya…, mengapa ini bisa terjadi?. Hal ini disebabkan mereka memiliki kepribadian yang ‘tidak siap’ untuk menerima sukses itu, karena mereka salah dalam memaknai sebuah kesuksesan.
Jadi untuk bisa meraih sukses, kita harus ‘mempersiapkan diri’ untuk sukses, hal pertama yang harus ada adalah ‘kemauan’ untuk sukses, lalu kita harus melakukan hal-hal yang diperlukan untuk membantu kita mencapai sukses itu.
Jika kita ingin sukses, kita harus mempersiapkan diri untuk menerimanya, persiapan ini secara logis terdiri dari kemampuan untuk memperbaiki diri melalui pengetahuan ’self help’ (menolong diri sendiri) yang harus kita dapatkan sendiri tanpa bantuan dari pihak manapun untuk kemudian diterapkan didalam kehidupan kita.
Untuk mudahnya agar kita bisa memaknai sebuah sukses itu, saya akan memberi gambaran sebuah pelajaran sukses yang saya dapatkan dari pelajaran biologi saat saya praktek di laboratorium yaitu suksesnya seekor kupu-kupu.
Kita semua pasti mengetahui bahwa kupu-kupu adalah salah satu hewan yang mengalami metamorfose dalam siklus kehidupannya.
Saat saya sedang praktikum biologi tentang proses metamorfose kupu-kupu ini, guru saya menerangkan tentang cara ulat bulu berubah menjadi kupu-kupu, guruku berkata dalam beberapa jam mendatang, si kupu-kupu akan berjuang untuk keluar dari kokon/kepompong (pupa) dan melarang kami murid-muridnya untuk memberikan bantuan kepada kupu-kupu tersebut, sesudah itu guru kami meninggalkan laboratorium.
Perjuangan kupu-kupu untuk keluar dari kokon/kepompong (pupa) sungguh merupakan pertaruhan hidup dan mati. Kupu-kupu itu berjuangg luar biasa kerasnya, tiba tiba ada seorang temanku merasa kasihan lalu membantu salah satu kupu-kupu sehingga tak merasa perlu berjuang lagi, tetapi sesaat sesudah keluar dengan bantuan si temanku ini kupu-kupu itu mati.
Ketika guru kami kembali semua murid menceritakan kejadian aneh itu dan guru kamipun menjelaskan bahwa dengan membantu kupu-kupu tersebut kita justru membunuhnya. ‘Hukum Alam’ sudah mengatur perjuangan kupu-kupu keluar dari kokon/kepompong (pupa) sebenarnya membantu kupu-kupu untuk mengembangkan dan menguatkan sayapnya dan salah satu teman kami yang menolong kupu-kupu itu justru menghilangkan perjuangan kupu-kupu tersebut untuk mengembangkan dan menguatkan sayapnya dalam proses ‘menolong dirinya sendiri’ dan menghilangkan ‘kemauan’ sang kupu-kupu untuk meraih kesuksesan hidup yang seharusnya dia dapatkan.
Jadi hikmah dari metamorfose kupu-kupu ini adalah kita mendapat sebuah pelajaran dari ‘hukum alam’, bahwa segala sesuatu dalam hidup ini membutuhkan ‘proses’, dan proses ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, banyak rintangan yang harus dilalui, bahkan banyak luka yang harus dialami disepanjang perjalanan ‘proses’ itu, tapi dengan semua itu menjadikan segalanya ‘sempurna’.
Mungkin dari kita semua sekarang sudah mulai menyadari makna dari sebuah sukses, bahwa sukses itu bukan ‘tujuan’ yang ingin kita capai tapi sebuah ‘proses’, bila kita bisa melalui semua ritual proses itu dengan baik, maka kita sesungguhnya sudah meraih sukses yang sebenarnya dan apa yang kita dapatkan dibalik semua ‘proses’ itu sesungguhnya hanya sebuah ‘hadiah’ belaka, jadi kali ini kita telah mendapat pelajaran lagi dari Allah SWT, mengenai makna sukses dari semua makhluk ciptaanNya bila kita mau sedikit saja menyimak semua pelajaran-pelajaran yang telah Allah SWT siapkan buat kita semua, Subhanallah…!
Hidup itu indah bila kita memahami makna dan arti sesungguhnya dari kehidupan itu, hidup itu berbagi, hidup itu menyenangkan, hidup itu kemauan, hidup itu menolong dan hidup itu cinta”.
Sudahkah Anda meraih sukses yang sesungguhnya? mari kita meraihnya dengan sebuah kunci sukses yaitu kemauan dan menolong diri sendiri serta kita harus mempersiapkan diri untuk menerima sukses itu.
Salam Kompasiana, Titi.
http://filsafat.kompasiana.com/2011/02/25/kunci-sukses-adalah-kemauan-dan-menolong-diri-sendiri/

pengertian syahadat


PENGERTIAN SYAHADAT
Syahadat merupakan pernyataan / persaksian yang nyata dan jelas antara seorang hamba dengan Tuhannya
dan syahadat harus di pertanggung jawabkan,syahadat berlafaskan "Assyhaduallaillahaillah wa assyhaduanna muhammaddarosullah" Tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad Utusan Allah.

      apakah kita sampai saat ini, kita udah benar dengan syahadat kita.coba kita koreksi kembali diri kita di waktu mulai kita lahir.apakah kita memeluk agama islam hanya ikuti agama kedua orang tua kita.
 dan seandainya kedua orang tua kita tidak memeluk agama islam kitapun tidak akan memeluk agama islam.disutulah kita harus fahami dan kita mengerti.
"Assyhaduallaillahaillah wa assyhaduanna muhammaddarosullah".bacaan ini bukan hanya sekedar dibaca,melainkan kita harus melafalkan dalam hati dan tingkah laku kita.
Assyhaduallaillahaillah yang artinya tiada tuhan selain ALLAH.maksud dari bacaan ini yang sebenarnya ;didalam hati kita hanya ada ALLAH..
Allh itu tidak ada dimana-mana dan Allah itu hanya ada dalam hati orang yang beriman,
apabila kita udah merasa Allah ada dalam hati( merasakan adanya ALLAH )kita ikuti kemauan Dia dan semua perintah-perintahnya.dan setiap hembusan nafasmu lafalkanlah ALLAH.
assyhaduanna muhammaddarosullah ;yang artinya nabi Muhammad Utusan Allah
kita sebagai pengikut nabi muhammad, kita wajib ikuti semua kelakuan/tingkah laku muhammad.hanya dialah yang pantas kita jadikan tuntuna di atas muka bumi ini,tidak ada yang lain kecuali nabi muhammad.
disitulah pengertian tentang syahada.
ALLAH hanya untuk di kenal.dan nabi muhammad itu tuntunan kita yang akan membawa kita menunju jalan untuk bertemu/berjumpa dengan ALLAH SWT.
Diposkan oleh Didik Irawan Label:

syari'at adl: peraturan-peraturan yang di tentukan dan hukum-hukum,halal danharam.syari'at di sini sbg landasan bagi seorang shufi,untuk mengerjakan amal ibadah yang bersifat lahiriyah.tegasnya syari'at itu adl peraturan-peraturan yang bersumber dari kitab suci alqur'an dan hadis hadis nabi. syari'at merupakan tingkatan pertama dalam menuju jalankebenaran( ALLAH ). dgn demikian berpegangan pada syari'at adl sama halnya berpegang kpd agama ALLAH. dgn mengerjakan semua perintah-perintahya dan berusaha dgn sekuat tenaga.menjauh segalah larangan**nya.
syari'at islam di sini ialah dasar-dasar islam yang berlandaskan Al - Quraan dan hadist nabi.
Islam terdiri atas lima perkara:Syahadat, Shalat Puasa,Zakat dan Hajji
1.SYAHADAT
   Syahadat merupakan pernyataan / persaksian yang nyata dan jelas antara seorang hamba dengan Tuhannya
dan syahadat harus di pertanggung jawabkan,syahadat berlafaskan "Assyhaduallaillahaillah wa assyhaduanna muhammaddarosullah" Tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad Utusan Allah
2.SHALAT
   Perintah shalat datang saat kejadian/peristiwa Isra dan Miraj,perintah ini turun langsung ketika nabi muhammad SAW berada di kangit ketujuh
Shalat bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mencegah perbuatan keji dan mungkar
3.PUASA
  Puasa merupakan ibadah paling rahasia bertujuan mengendalikan nafsu dan menemukan jatidiri
4.ZAKAT
  Zakat terbagu dua fitrah dan mall.Zakat fitrah untuk membersihkan diri dan mall untuk membersihkan harta
5. HAJJI
    Hajji merupakan hijjrah/pindah dari perbuatan jelek ke perbuatan baik


thari'qat adl suatu per jalanan utk mencapai tujuan,mejalankan amal yg lebih baik,berhati hati dan tidak memilih kemurahan (keringanan) serta kekuatan hati seperti latihan** jiwa thari'qat itu slalu melakukan atau mengerjakan dzikir**yg di tujukan kpd ALLAH S W T.tdk kpd siapapun dan tdk punya keinginan/kemauan.hanya semata mata menuju jalan ALLAH S W T. THARI'QAT mempunyai dzikir**tertentu:1) dzikir dgn suara atau dgn lisan. 2) dzikir qalbi yg hanya di ucapkan dgn hati. 3) dzikirallah di ucapkan secara rahasia atau dzikir sirr. dari cara inilah tujuan thari'qat tak lain adl agar dapat mengenal ALLAH swt /dekat dgn ALLAH swt.apabilah sudah berhasil menyingkap hijab yg menghalangi antara mahluk dan KHALIQI.yg menghalang-halangi tak lain adl hawa nafsu dan kemewahan duniawi.apabilah manusia bisa berhasil mengekang hawa nafsu dan kemewahan duniawi.manusia itu akan dpt mengenal tuhan dan merasakan adaya dzat ALLAH. syari'at dan thari'qat tidak bisa di pisahkan,harus ber sama-sama.




hakikat adl :kebenaran sejati dan mutlaq.sebagai akhir dari semua perjalanan ,tujuan segala jalan (thari'qat). thari'qat dan marifat tak bisa di pisahkan bahkan sambung manyambung satu sama lain. tidak akan sempurna jika tidakmengerjakan semua yakni: syari'at,thari'qat,hakikat dan marifat. syari'at merupakan peraturan/perkataan. thari'qat merupakan pelaksanaan/perbuatan. hakikat merupakan keadaan/hak. marifat tujuan pokok yakni mengenal ALLAH dengan serbenar-benarnya.
marifat adl :mengenal ALLAH baik lewat sifat-sifatnya,asma asmanya,maupun perbuatan-perbuatannya.marifat adl puncak dari tujuan.syari'at,thari'qat,hakikat,marifat.itu tidak bisa dipisah-pisahkan dan tidak bisa di tinggalkan. dapat di contokkan misalnya:1) bersuci menurut syari'at bersih diri dengan air. menurut thari'qat bersih diri lahir dan batin dari hawa nafsuh. menurut hakikat bersih hati dari selain ALLAH SWT. semua itu untuk mencapai marifattallah. 2) mengarjakan sholat: menurut syari'at seorang bersembahyang wajib menghadap kiblat.hadapkanlah mukamu ke ka'bah di mekah. menurut thari'qat hati wajib menghadap ALLAH swt. menurut hakikat kita menyembah ALLAH,seolah olah ALLAH itu nampak dan kita melihatnya. jika engkau tidak melihat,maka sesungguhnya ALLAH melihat engkau. menurut marifat mengenal ALLAH yang di sembah dengan khusuk. ma'rifat ialah pengenalan terhada sesuatu, baik dzat maupun sifatnya yang sesuai kanyataan yang sebenarnya. mengenal allah adalah ilmu pengetahuan yang terpanting. karna allah tidak ada bandinganya allah mewajibkan pada setiap mahluk untuk mengenalnya,baik jin,manusia,malaikat maupun syetan untuk mengenal sifatnya,perbuatan dan asma-asmanya. kewajiban ini untuk seluruh mahluk sesuai dengan kemampuan dan keadaan masing-masing. untuk memperoleh pengtauhan tentang allah atau MA'RIFAT BILLAH memperlukan proses yang panjang. melakukan pemikiran, perenungan dan keadaan mahluk allah,hukum-hukum allah,rahasia-rahasia allah.mahluknya akan banyak yang akan di ketauhi tentang rahasia-rahasia allah dan ia makin dekat dengan allah. MA'RIFAT BILLAH ini bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, namun juga tergantung pula,pada karunia allah.tidak semua orang mendapatkannya. ma'rifatullah adalah pemberian allah ke pada hambanya yang sanggup menerimanya. datangnya karunia ini ( ma'rifat ) karna adanya : kesungguhan, kerajinan, kepatuhan dan kepasrahan diri ke pada allah /mengabdikan diri sebagai hamba allah.dalam beramal secara lahirnya sebagai pekerjaan yang di sebut ibahdat ke pada allah. dengan kepatuhan dan kepasrahan diri kepada allah sebagai hamba allah dalam mengabdikan diri kepada allah ia akan mendapatkan rahmat dari allah. karunia allah itu sebagai balasan untuk amal shalehnya.maka kita sudah melakukan amal shaleh secara istiqomah dimana hatipun sejajar dengan garaknya.sehingga menjadi suci gerakanya dan mudahlah mencapai derajat yang tinggi di sisi allah dan akan di bukakan pintu ma'rifat. Apabilah telah di buka bagimu jalan ma'rifat kepada allah.maka dengan ke ma'rifatullah jangan kamu pedulikan dengan amalmu yang sedikit.maka sesungguhnya allah tidak akan membuka kemarifatan mu kecuali DIA menghendaki mengenal kepada mu,tidaklah kamu mengerti bahwa ma'rifat itu anuhgra allah.jangan pedulikan amal kita yang sedikit, sebab ma'rifat itu sendiri sudah merupakan rahmat, anugrah yang luar biasa.siapa yang di bukakan pintu ma'riftullah, berarti orang itu akan di kenal baik oleh allah sendiri dan seluruh penghuni langit. ## YANG MENCARI ITU SESUNGGUHNYA YANG DI CARI...## YANG MENGENAL ITU SESUNGGUHNYA YANG DI KENAL.......
Di zaman sekarang banyak bermunculan pemahaman atau golongan yang menyatakan dirinya bermarifat tapi bertentangan dengan sunnahtullah, apa maksudnya?
mereka yakin Allah SWT di hati mereka tapi mereka melalaikan perintah shalat dan meninggalkan syareat islam sungguh yang ada di hati mereka itu iblis bukan sang kebenaran kenapa saya menyatakan demikian,karena panutan dan tuntunan kita semua ialah baginda muhammad rasullah SAW.Manusia utusan Allah, muhammad SAW itu tidak pernah tuk sesaat tidak pernah meniggalkan shalat apalagi kita yang hanya paham tentang marifat kemudian meninggalkan syareat begitu saja dengan segala macam alasan,sungguh sangat batil.
Perjalanaan menuju marifaat tidaklah mudah karena iblis dan bala tentaranya tidak akan pernah diam,dia tercipta untuk menyesatkaan anak cucu adam.Iblis adl musuh abadi manusia.
berhati-hatilah dengan iblis karena ia bisa berubah bentuk wujud apa pun kecuali nabi muhammad saw.Dan dia bisa menggunakan segala cara untuk menyesatkan anda,untuk saudaraku yang sedang menjalani ilmu kemarifataan janganlah merasa paling benar tetaplah berada dalam jalur islam,perbanyaklah kesabaran dan keikhlasan sebab sabar itu tidak ada batasnya karena iblis tidak akan sanggup melawan kesabaran.Iblis tidak akan bisa menyesatkan manusia apabila manusia itu dengan hati yang ikhlas ( semata-mata hanya untuk allah ) tanpa ada suatu kemauan dan keinginan.apabila manusia mengerjakan semua itu dengan ada kemauan dan keinginan disitulah iblis akan mewujudkan kemauan dan keinginan itu






Diposkan oleh Didik Irawan Label:

malaikat yang slalu membantu manusia untuk menunjukan jalan menuju jalan kebenara(ALLAH).malaikat inilah yang selalu menggagalkan semua rencana iblis.dia selalu bersaing dengan iblis dan berlomba-lomba untuk mengajak manusia kejalannya.
sering kali didalm hati manusia ada dua kata/dua pembicaran(bisikan) dlm hati kita.itulah malaikat dan iblis lagi berdebat untuk menunjukan jalan ke manusia dengan caranya masing-masing.malaikat slalu menunjukan dgn jalan yang menuju kebenaran.





IBLIS.adaya dalam hati manusia,yang slalu akan meyesatkan manusia.agar semua manusia tidak bersujud ke hadapan ALLAH swt dan mengikuti jalannya dia untuk masuk ke api neraka.iblis banyak cara untuk meyesatkan manusia. Mengapa Allah SWT menciptakan iblis?
iblis di ciptakan untuk menguji hamba hambanya, mengapa Allah SWT menguji hambanya?
manusia dikatakan beriman kalau sudah di uji, apa ujiannya? di dalam kitab suci AL-Quraan sudah jelas apa yang di uji, yaitu kelaparan ,kekurangan harta benda dan jiwa.
kelaparan, manusia kalau sudah merasakan lapar,di situlah peperangan terjadi antara iblis dan malaikat bertarung,kalau manusia itu mengerti akan dirinya maka ia akan di tolong oleh sang kholik tapi bila ia lupa maka akan hancurlah ia dan menjadi pengikut sang iblis laknatullah.
Sang Iblis dan bala tentaranya akan musnah dengan sifat sabar,syukur dan ikhlas
JIN adl:dia berada di ayat-ayat suci al quran,yg slalu menjagaya.barang siapa yang sering membaca ayat-ayat suci al quran(berzikir),yang tidak bertujuan ke ALLAH...SWT.disitulah jin-jin pejaga itu akan keluar untuk menduduki hati manusia,untuk membuat sombong hati mu dan meyesatkan mu.di kala kita berzikir hati-hatilah jin-jin itu tlah mengintip kita agar dia tau apa yang kita mintak (do'a),disitulah jin akan mengabulkan permintaan atau do'a kita.
jin tidak bisa mengabulkan do'a manusia,bila manusia berzikir hanya semata-mata untuk Allah dan tak ada maksud lainya atau keinginan.banyak orang yang salah faham dengan semua itu,karna jalan yang tlah kita jalani udah benar tapi niat kita yang belum benar.kita harus faham dengan niat,karna niat yang terpenting untuk mempalajari tentang ilmu Allah.kalau niatnya udah salah kesananya nanti akan salah.
menungso(manusia) yang artiya:menu adl:pilihan.
pilihan itu ada 4 pilihan:
1.jin
2.iblis
3.malaikat
4.allah.

di dalam manusia ada suatu pilihan yang harus manusia pilih salah satuya,untuk sebagai penuntun jalan hidup agar kita tidak salah untuk menuju jalan kebenaran. Ngso adl:ngroso.jadi semua itu hanya bisa dirasakan.dan apabilah kita tlah merasakan salah satunya dari itu,kita akan merasakan dalam sifat-sifat kita,tingkahlaku kita dan geraknya hidup kita.
apabilah hati manusia tlah di duduki jin. hati manusia itu slelu merasakan penuh dengan ke sombongan dan ia slalu sudah merasa yang paling benar.apa yang dia jalani atau ia kerjakan dia sudah merasa paling benardan tidak ada yang kurang(salah).
apabilah hati manusia di duduki iblis. manusia itu tidak pernah berjalan di atas kebenaran dan ia selalu mengerjakan atau menjalankan apa yang tlah dilarang oleh Allah ( mengerjakan yang haram-haram ).dia jauh dari jalan Allah.
apabilah hati manusia di duduki MALAIKAT.manusia itu selalu berjalan di atas kebenaran (menujuh jalan Allah).dia selalu mengerjakan semua perintah-perintahnya Allah dan dia menjauhkan diri dari semua larangan-larangan Allah.
apabilah hati manusia sudah adaya ALLAH. setiap gerakkanya adl geraknya ALLAH,dan mulutnya selalu terkunci (tidak banyak bicara),banyak diam dan selalu ingat kepada Allah.sifatnya selalu sabar dan ikhlas dan bermurah hati (tidak sombong).
Diposkan oleh Didik Irawan Label:




##BERARTIYA DIRI MU##setip nafasku ku sebut nama MU.ku bersandar dalam ke agungan MU. setiap heningku terhijap wajah MU.ku menanti berjumpa dengan MU. KAU adalah mutiara dalam hati ku.yang memancarkan sinar kemuliaan MU. KAU adalah mata hatiku.yang menuntun jalan hadipku. diriku hanyut dalam wujudMU.diriku hina tanpa kemulian MU.diriku hampa tanpa hakekat MU.diriku ada semua karena MU. maafkan diriku yang melupakan MU. kini ku sadari berartiya diri MU. 28 10 2009. 
http://di2kirawan.blogspot.com/