Translate

Sabtu, 12 Maret 2011

Tujuh Jurus Ampuh Mengatasi Asma

Home » Artikel » Artikel Kedokteran » Tujuh Jurus Ampuh Mengatasi Asma

Tujuh Jurus Ampuh Mengatasi Asma

Dipublikasikan pada 11 January 2006 oleh Asta Qauliyah

Jika anda baru mengunjungi Astaqauliyah.com, maka ini adalah kesempatan berharga buat anda. Silahkan berlangganan artikel Astaqauliyah.com melalui email anda. Kami akan mengirimkan resume ke email anda setiap kali ada postingan baru di blog ini. Klik di sini di sini untuk mendaftar!

You were searching forPosts relating to "obat manjur menyembuhkan kejeunuhan". See posts relating to your search »« Hide related posts



*

Terapi Air Tak Kalah dengan Pengobatan Medis
Air dapat dipakai sebagai pengobatan. Terapi air adalah terapi alami yang didasari penggunaan air secara internal (dengan meminum air) dan...
*

Referat Kedokteran: Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit Pneumonia
Pada referat sebelumnya yang berjudul Referat Kedokteran: Etiologi dan Patofisiologi Penyakit Pneumonia, sudah dijelaskan seputar insiden, epidemiologi, etiologi dan patofisiologi...
*

Waspadai Obat Nyamuk Anda
Seberapa sering anda memakai obat nyamuk? Apa mereknya? apa jenisnya ampuhkah? berapa harganya ? itulah pertanyaan yang sering mucul tentang...
*

Obat Kortikosteroid untuk Terapi Eczema (eksim) atau Dermatitis Atopik
.adHeadline {font: bold 10pt Arial; text-decoration: underline; color: #660000;} .adText {font: normal 10pt...
*

Jangan Ragu Mengonsumsi Obat Generik
STUDI bioavailabilitas/ ketersediaan hayati (BA) dan atau bioekivalensi/kesetaraan biologi (BE) memainkan peranan penting dalam suatu periode pengembangan obat baru dan...

SESAK yang sering dikeluhkan pengidap asma memang menjengkelkan. Apalagi jika kekambuhannya lebih dari 1 atau 2 kali dalam seminggu. Asma dapat mengganggu kinerja dan aktivitas seseorang sehingga terasa menjengkelkan bagi penderitanya. Penyakit ini bahkan dikatakan sebagai biang kerok utama atas ketidakhadiran di tempat kerja dan di sekolah. Selain mengganggu aktivitas, asma juga tidak dapat disembuhkan, bahkan dapat menimbulkan kematian. Namun bila penyakit ini dikendalikan, kematian dapat dicegah dan gejalanya pun tidak sering muncul. Untuk mengetahui bagaimana cara mengontrol penyakit asma, penderita perlu mengenal asma terlebih dahulu.

Asma adalah penyakit peradangan saluran nafas kronik akibat terjadinya peningkatan kepekaan saluran nafas terhadap berbagai rangsangan. Pada penderita yang peka, hal ini akan menyebabkan munculnya serangan batuk, bunyi mengi, banyak dahak, sesak nafas, dan rasa tidak enak di dada terutama pada malam hari atau menjelang pagi. Belum diketahui secara pasti mengapa pada sebagian orang saluran nafasnya meradang dan pada sebagian lain normal. Tetapi kejadian tersebut biasanya ditemukan pada keluarga atopik (keluarga alergi) yang dapat mewariskan sifat alergi ini kepada turunannya.

Kelainan utama penyakit asma adalah peradangan saluran nafas, sehingga pengelolaannya bukan ditujukan untuk menghilangkan sesak nafas semata, tetapi juga berbagai tujuan berikut yaitu, agar penderita dapat melakukan latihan jasmani termasuk lari dan olah raga lain, mempunyai fungsi paru mendekati normal dan gejala asmanya menghilang atau minimal. Tujuan lain adalah agar serangan asma minimal, pemakaian obat untuk serangan sesak berkurang, dan tidak ditemukan efek samping obat.

Dalam panduan GINA (Global Initiative for Asthma) 2002 yang dibuat oleh National Heart, Lung and Blood Institute & World Health Organization (NHBLI/WHO), menyebutkan untuk mewujudkan tujuan tersebut, dokter maupun penderita asma dianjurkan untuk mempelajari, memahami, dan mengerjakan apa yang disebut “tujuh jurus ampuh untuk mengatasi penyakit asma”. Pertama, penyuluhan (edukasi) mengenai penyakit asma pada penderita asma dan keluarganya. Pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”. Ibarat sepasang muda-mudi yang baru pertama berjumpa, tak kan mau menyayangi dan mengorbankan diri, sebelum mengenal lebih jauh pasangannya. Demikian pula dengan penderita asma. Pengenalan tentang seluk beluk asma, bagaimana pengobatan serta pencegahan yang benar, akan membuat penderita dan keluarganya mengerti sehingga termotivasi untuk berusaha kuat mengatasi penyakitnya. Karena itu edukasi menjadi faktor kunci dalam pengobatan asma.

Kedua, mengetahui obat-obat asma, baik kegunaan maupun efek sampingnya. Terdapat dua jenis obat asma yaitu, obat-obat kerja cepat untuk mengatasi dengan segera serangan sesak nafas (reliver), dan obat-obat pencegahan jangka lama, untuk mengatasi peradangan saluran nafas (preventer/controller). Yang termasuk obat reliver adalah obat-obat bronkodilator kerja cepat seperti, salbuterol Albuterol, metaproterenol, terbutaline, dan procaterol. Selain itu, obat golongan anti cholinergik, teofilin kerja cepat, suntikan adrenalin atau epinefrin juga dapat dijadikan pilihan.

Penelitian para ahli belakangan ini menyebutkan bahwa peradangan yang kronik dapat merubah struktur dinding saluran nafas, sehingga menyebabkan remodelling pada dinding saluran nafas. Karena itu, pengobatan pencegahan jangka lama sangat dianjurkan. Obat pencegahan jangka lama yang dapat dipakai adalah kortikosteroid, cromoglycate, nedcromil, agonis B2 kerja lama, teofilin lepas lambat, dan leukotrien. Dari semua jenis obat yang tersedia, pemakaian obat inhalasi lebih diutamakan mengingat efeknya yang cepat, dosis yang kecil dan efek samping yang minimal meskipun diberikan dalam jangka panjang.

Ketiga, mengobati atau mengelola penyakit asma. Pengobatan tidak hanya dilakukan ketika serangan asma sedang berlangsung, tetapi juga saat tidak dalam serangan. Pengelolaan asma saat tidak dalam serangan dilakukan melalui pengobatan pencegahan dan latihan olah raga terpimpin. Penderita asma dengan tipe intermiten (sangat ringan) yang kekambuhannya dalam 1 minggu kurang dari 1 atau 2 kali, tidak memerlukan pengobatan pencegahan. Namun, penderita asma dengan tipe persisten ringan, persisten sedang dan persisten berat, harus mendapatkan terapi pencegahan secara bertahap disesuaikan dengan klasifikasinya.

Untuk memudahkan penanganan, penderita yang sedang mengalami serangan asma, dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu penderita dengan serangan asma ringan, serangan sedang dan serangan berat. Salah satu tanda untuk melihat pembagian berat ringannya serangan adalah dengan melihat cara berbicara. Bila ketika berbicara penderita masih dapat menyelesaikan kalimat, klasifikasi yang diberikan adalah serangan asma ringan. Saat penderita berbicara dengan suara terputus-putus, maka penderita digolongkan dalam serangan asma sedang. Tetapi jika penderita sudah mengalami kesulitan bicara karena sesak, penderita masuk dalam kelompok serangan asma berat. Penderita yang mengalami serangan ringan dapat diobati sendiri di rumah. Namun penderita yang mendapatkan serangan sedang dan berat harus ditangani di rumah sakit.

Keempat, mempelajari dan memahami faktor-faktor pencetus serangan asma (allergen), dan mengetahui cara mengendalikannya. Faktor-faktor pencetus ini dapat berbeda antara penderita yang satu dengan lainnya. Faktor-faktor yang sering dikatakan sebagai pemicu di antaranya adalah faktor alergen, emosi atau stres, infeksi, zat makanan, zat kimia, faktor fisik seperti perubahan cuaca, kegiatan jasmani, dan obat-obatan. Kerja faktor pencetus ini pun berbeda, ada faktor pencetus yang bisa mengakibatkan penyempitan saluran nafas (bronchospasme), seperti emosi, udara dingin, latihan, dan lain-lain. Ada pula faktor pencetus yang terutama menyebabkan peradangan seperti infeksi saluran pernafasan akut, alergen, zat kimia, dan asap rokok. Sebagian besar serangan asma dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor pencetus tersebut. Penderita yang gemar menghindar atau merubah perilaku untuk menjauhi factor pemicu, akan dengan mudah mencapai tujuan pengobatan asma. Sebaliknya, penderita yang “cuek” tak pernah berpantang dengan faktor pemicu akan sulit memperoleh kemajuan dalam pengobatan.

Kelima, membuat rencana emergensi (Action Plan). Action plan terutama diperlukan ketika serangan asma akan kambuh, dan penderita membutuhkan pertolongan secepatnya. Penanganan dengan cepat dan tepat dapat dilakukan bila penderita dan keluarganya membuat rencana emergensi secara tertulis bersama dokter, dan mengetahui kapan penyakit asmanya mulai tidak terkendali. Namun, bila penderita tidak mempunyai action plan, pengelolaan yang diberikan akan memakan waktu lebih lama, bahkan dapat terjadi underdiagnosa atau overdiagnosa sehingga merugikan penderita. Tidak terkendalinya asma mulai tampak manakala penderita dan keluarganya menemukan keadaan-keadaan sebagai berikut : gejala asma semakin bertambah, pemakaian obat bronkodilator kian sering, gejala asmanya tidak dapat dikurangi atau dihilangkan dengan bronkodilator, dan bila mempunyai alat Peak flow meter, alat tersebut akan menunjukan penurunan arus puncak ekspirasi (APE) serta kenaikan variability. Sewaktu keadaan-keadaan tersebut muncul, tindakan harus segera diambil agar penyakit kembali terkendali.

Keenam, rehabilitasi dan peningkatan kebugaran jasmani dengan olah raga atau latihan jasmani terpimpin. Penderita asma sering mengalami sesak sehingga sebagian otot-otot pernafasan kerap digunakan, sementara sebagian otot yang lain tidak. Otot-otot pernafasan yang banyak digunakan akan membesar dan yang jarang digunakan akan melemah. Akibatnya, efisiensi dan koordinasi pernafasan menjadi kurang baik, fungsi paru serta pertahanan paru pun menurun. Selain itu penderita asma juga terkadang mengalami keterbatasan fisik atau membatasi pekerjaan fisik karena takut sesak, sehingga kebugaran jasmaninya berkurang. Dengan melakukan latihan jasmani secara teratur yang terpimpin, otot pernafasan akan kembali berfungsi normal, kenaikan kapasitas vital paru meningkat dan kebugaran jasmani pun menjadi lebih baik.

Ketujuh, memonitor dan mengikuti perkembangan (follow up) penyakit penderita asma secara teratur. Hingga kini penyakit asma belum dapat disembuhkan, dan gejala asmanya sering bervariasi. Karena itu pengobatan harus dilakukan seumur hidup dan dimonitor serta diiikuti perkembangannya terus menerus. Hal ini diperlukan untuk melihat cocok tidaknya obat yang diberikan dalam mengendalikan asma. Dokter akan mengevaluasi apakah obat perlu ditambah, dikurangi atau dihentikan. Bila keadaan dan kebugaran jasmani penderita memang telah membaik, pengobatan dapat dihentikan.

Mengingat keadaan sosial ekonomi di Indonesia yang cukup beragam, para dokter diharapkan dapat mengadaptasi pengelolaan asma sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Tetapi yang terpenting prinsip dasar pengobatan harus tetap sama. Penderita dianjurkan agar proaktif dan semangat dalam mengatasi penyakitnya, serta tetap bekerjasama dengan dokter agar tujuan pengobatan asma dapat terwujud. Satu hal yang perlu diingat oleh penderita asma demi tercapainya tujuan tersebut, jangan biarkan asma mengendalikan Anda, tetapi Anda yang harus mengendalikan asma.

(Agnes Tri Harjaningrum, dr.)



http://astaqauliyah.com/2006/01/tujuh-jurus-ampuh-mengatasi-asma/

Selasa, 08 Maret 2011

TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN SUNNAH

Makalah Toleransi dalam Islam


TOLERANSI DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN DAN SUNNAH
(Upaya Mewujudkan Tatanan Kehidupan yang Harmonis Ditengah Pluralisme)

A. PENDAHULUAN
Kemunduran dunia Islam yang masih terus berlangsung hingga saat ini, tidak dapat dipungkiri, telah berdampak negatif terhadap kondisi umat Islam secara internasional. Kaum muslim di berbagai belahan dunia terus menjadi bulan-bulanan para musuh Islam (baca: jaringan Zionis internasional dan Barat), tanpa mampu memberikan perlawanan yang berarti. Meski sejak paruh terakhir abad keduapuluh penetrasi secara fisik (militer) terhadap wilayah-wilayah Islam telah banyak menurun intensitasnya, namun tidak berarti umat Islam dapat bernapas lega. Ini dikarenakan para musuh Islam telah menyiapkan bentuk-bentuk penjajahan baru (new imperialism) yang efeknya tidak kalah mengerikan dari peperangan secara fisik. Hegemoni di bidang ekonomi, politik, budaya, dan pemikiran, yang terus dibangun oleh para penentang Islam tersebut, hanyalah sebagian, untuk sekedar menyebut contoh, dari bentuk-bentuk konspirasi mutakhir untuk tetap memposisikan kaum muslim sebagai pihak yang inferior.[1]

Terutama dalam bidang pemikiran, umat Islam pada saat sekarang tengah berada di pusaran arus perang pemikiran (al-ghazwu al-fikriy) yang dahsyat. Jaringan global musuh-musuh Islam gencar melakukan upaya “pencucian otak” terhadap umat Islam dengan cara menyerang konsep-konsep/ajaran-ajaran Islam di satu sisi, dan pada saat bersamaan mendesakkan konsep-konsep pemikiran mereka. Targetnya adalah menjadikan umat Islam secara perlahan-lahan terjauh, atau setidak-tidaknya mengalami pendangkalan pemahaman, dari ajaran-ajaran agamanya.

Salah satu aspek ajaran Islam yang pada saat ini banyak mendapat sorotan tajam adalah konsep tentang pluralisme dan toleransi. Kaum Zionis dan Barat gencar mengkampanyekan bahwa Islam adalah agama yang anti toleransi dan kemajemukan. Mereka juga berusaha keras merusak citra Islam dengan mengembangkan opini bahwa Islam dan umat Islam tidak menghargai kesetaraan hidup (equality of life) dan hak-hak asasi manusia. Upaya-upaya ini sangat membahayakan karena dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Guna mengantisipasi dampak negatif dari gelombang perang urat syaraf yang mencemaskan ini, tentunya sangat diperlukan usaha bersama segenap umat Islam untuk kembali berusaha menggali serta menghayati konsep Islam tentang toleransi yang kini sedang diusahakan untuk dikaburkan. Umat Islam, terutama generasi muda, harus diberikan pemahaman yang benar tentang konsepsi ini, sehingga ketidaktahuan atau keragu-raguan mereka tidak menjadi sasaran empuk propaganda keji Zionis dan Barat. Dalam kerangka inilah tulisan singkat ini dimaksudkan, atau, meminjam istilah Yusuf Qaradhawi, ia ditujukan untuk menjelaskan konsepsi yang sebenarnya (taudhîh al-haqâiq), menghilangkan keragu-raguan (izâlah al-syubuhât), serta meluruskan persepsi yang keliru (tashhîh al-afhâm).[2]

Dalam tulisan yang sangat sederhana berikut ini, penulis berusaha mengelaborasi secara tematis konsep Islam tentang toleransi dan pluralisme. Diawali dengan penjelasan seputar definisi, kemudian dilanjutkan dengan upaya untuk membuktikan bahwa Islam menerima pluralisme sekaligus memberikan jalan keluar dalam mensikapinya, yaitu dengan prinsip toleransi (tasâmuh). Pada bagian akhir akan diuraikan secara komprehensif solusi dimaksud, sesuai dengan perspektif yang dimajukan al-Quran dan sunnah.

B. PEMBAHASAN

1. Definisi Toleransi dan Pluralisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata toleransi berarti sifat atau sikap toleran.[3] Kata toleran sendiri didefinisikan sebagai “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.[4]

Kata toleransi sebenarnya bukanlah bahasa “asli” Indonesia, tetapi serapan dari bahasa Inggris “tolerance”, yang definisinya juga tidak jauh berbeda dengan kata toleransi/toleran. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, toleransi adalah quality of tolerating opinions, beliefs, customs, behaviors, etc, different from one’s own.[5] Lebih lanjut menurut Abdul Malik Salman, kata tolerance sendiri berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti “berusaha untuk tetap bertahan hidup, tinggal, atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau disenangi.[6] Dengan demikian, pada awalnya dalam makna tolerance terkandung sikap keterpaksaan.

Adapun dalam bahasa Arab, istilah yang lazim dipergunakan sebagai padanan dari kata toleransi adalah سماحة atau تسامح. Kata ini pada dasarnya berarti al-jûd (kemuliaan),[7] atau sa’at al-shadr (lapang dada) dan tasâhul (ramah, suka memaafkan).[8] Makna ini selanjutnya berkembang menjadi sikap lapang dada/ terbuka (welcome) dalam menghadapi perbedaan yang bersumber dari kepribadian yang mulia.[9] Dengan demikian, berbeda dengan kata tolerance yang mengandung nuansa keterpaksaan, maka kata tasâmuh memiliki keutamaan, karena melambangkan sikap yang bersumber pada kemuliaan diri (al-jûd wa al-karam) dan keikhlasan.
Jika dicermati dengan seksama, pemahaman tentang toleransi tidak dapat berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan suatu realitas lain di alam yang merupakan penyebab langsung dari lahirnya toleransi. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Memahami toleransi an sich tidak akan ada artinya tanpa memahami realitas lain tersebut, yaitu kemajemukan (pluralisme; bahasa Arab: ta’addudiyyah). Dengan demikian, untuk dapat bertoleransi dengan baik, maka pemahaman terhadap pluralisme terlebih dahulu mutlak diperlukan.

Secara etimologis, kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris “plural” yang berarti banyak (antonim dari kata singular).[10] Dalam perkembangannya, kata ini secara lebih spesifik ditujukan terhadap realitas masyarakat yang majemuk.[11] Artinya, masyarakat yang heterogen dalam satu aspek atau lebih, seperti dalam hal keturunan, pemikiran, tingkah laku, kepercayaan, adat istiadat, agama, dan sebagainya. Kemajemukan ini lahir melalui proses-proses tertentu, disadari atau tidak, atau dikehendaki maupun tidak dikehendaki.

2. Penerimaan Islam terhadap Pluralisme
Secara sosiologis, manusia merupakan makhluk yang bermasyarakat. Kehidupannya di atas dunia ini bersifat dependen, dalam arti eksistensinya, baik secara individual maupun komunal, tidak bisa lepas dari “campur tangan” pihak lain. Al-Quran menyebut salah satu fase penciptaan manusia dengan ‘alaq yang selain dapat dipahami sebagai “keadaan berdempet pada dinding rahim” juga pada hakekatnya menggambarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan selalu bergantung pada pihak lain, atau dengan kata lain tidak dapat hidup sendiri.[12]

Di sisi lain, dunia yang dihuni manusia bukanlah dunia yang singular- seragam atau semacam. Sebaliknya, Allah menciptakannya penuh dengan keragaman dalam berbagai aspek, seperti lingkungan, atau spesies yang hidup didalamnya. Masing-masing hidup dalam kelompok yang saling berkaitan.[13] Muhammad Imarah menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah merupakan objek dari keanekaragaman. Hanya Allah yang benar-benar merupakan satu kesatuan yang mutlak (true unity).[14]

Jika dicermati, Allah SWT sebenarnya banyak menyinggung masalah pluralisme dalam al-Quran. Dalam surat al-Rum (30): 22 misalnya, Allah SWT menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai warna kulit dan bahasa.

ومن اياته خلق السموت والأرض والاختلاف السنتكم والوانكم ان فى ذلك لآيات للعالمين (الروم: 22)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui ”[15]

Selanjutnya dalam surat al-Hujurat (49): 13, Allah SWT juga menyebutkan penciptaan manusia ke dalam suku-suku dan bangsa-bangsa.
يا ايها الناس ان ا خلقناكم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا
(الحجرات:13)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…”[16]

Bahkan, dengan redaksi yang lebih mempertegas eksistensi pluralisme, dalam surat al-Maidah (5): 48, Allah SWT kembali berfirman:

ولو شاء الله لجعلكم امة واحدة ولكن ليبلوكم فيما اتاكم فاستبقوا الخيرات (المائدة: 48)
“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…”[17]

Pada ayat diatas Allah SWT menyatakan bahwa jika Dia menghendaki, maka semua manusia dapat saja dijadikan satu (seragam), baik secara fisik, pemikiran, bangsa, ideologi, bahkan agama. Sebagai contoh, jika Allah SWT menghendaki kesatuan pendapat pada seluruh manusia, maka niscaya diciptakan-Nya manusia itu tanpa akal, seperti layaknya binatang atau benda-benda tak bernyawa lainnya yang tidak memiliki kemampuan menalar, memilah, dan memilih. Akan tetapi hal tersebut tidak diinginkan-Nya. Kesan ketidakinginan ini tercermin dari penggunaan kata (harf) “لو “ yang dalam ilmu kaedah bahasa Arab berarti “pengandaian yang mengandung makna kemustahilan”.[18]

Dengan memahami berbagai penjelasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya dalam kacamata Islam, pluralisme di alam merupakan suatu kepastian/ keniscayaan , sama halnya dengan hukum-hukum alam lain yang diciptakan Allah SWT. Hukum-hukum ini diistilahkan al-Quran dengan sunnatullah, dimana tidak ada perubahan padanya (surat al-Ahzab (32): 62).

Sebagai sebuah sunnatullah, kemajemukan yang melandasi setiap sendi kehidupan manusia, tentu saja tidak terlepas dari latar belakang, sebab dan tujuan. Dari kutipan beberapa ayat diatas akan didapati kesan bahwa realitas tersebut sarat manfaat, tidak saja bagi manusia, namun juga bagi alam secara keseluruhan. Dalam surat al-Rum (30): 22 diatas, umpamanya, Allah SWT menyatakan bahwa kemajemukan merupakan salah satu tanda kebesaran dan manifestasi kemahakuasaan-Nya.

Demikian juga pada surat al-Hujurat (49); 13 diterangkan bahwa dijadikannya manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah dalam rangka ta’âruf (saling mengenal). Akan tetapi, ta’âruf yang dimaksud tentu saja tidak berhenti pada makna kebahasaan saja, yaitu “keadaan saling mengenal”, namun ditekankan kepada dampak turunannya yang lebih besar, yaitu saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk kemudian saling bekerjasama dan mengambil manfaat (keuntungan). Hasilnya, akan timbul lompatan-lompatan kemajuan (taqaddum) dalam peradaban umat manusia itu sendiri.[19]

Tidak berhenti disitu, dalam ayat ketiga, Allah SWT menambah lagi deretan hikmah yang akan didapatkan manusia dengan Pluralisme, yaitu terciptanya iklim attasâbuq fî al-khairât (kompetisi dalam amal-amal kebaikan). Secara psikologis, jika seseorang berada dalam situasi yang plural, maka ia akan terdorong untuk berkompetisi dengan orang lain. Artinya, ia akan dihadapkan pada tantangan untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Dinamika kehidupan yang seperti ini, pada akhirnya, akan menciptakan individu-individu, selanjutnya masyarakat, yang aktif, dinamis, dan kreatif. Kejumudan dalam kehidupan, pada hakikatnya menghinggapi manusia dikarenakan ia terlahir pada situasi masyarakat yang singular dan tidak memiliki spirit kompetisi .

3.Toleransi Ditengah Pluralisme dalam Tinjauan al-Quran dan Sunnah
Suatu realitas yang sukar untuk dipungkiri bahwa pluralisme dalam masyarakat mesti sarat dengan “gesekan-gesekan”. Ta’âruf atau interaksi sosial yang dijalin antar individu/ masyarakat, pada hakikatnya, sangat berpotensi melahirkan tarik ulur kepentingan yang bisa mengarah kepada hal-hal yang destruktif. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan, sebagai ciri khas masing-masing individu dan masyarakat, tersebut mesti disikapi secara positif dan konstruktif sehingga tidak merugikan diri sendiri. Dengan demikian, pluralisme membutuhkan aturan-aturan main yang jelas untuk menjamin terpeliharanya kemaslahatan masing-masing pihak.

Dengan memahami hal diatas, tidaklah mengherankan jika al-Quran, yang memang diturunkan untuk mendorong terwujudnya kemaslahatan manusia- atau dalam ungkapan khas al-Quran “ikhrâju al-nâs min al-dzulumât ila al-nûr”, sangat konsern dengan hukum-hukum yang mengatur hubungan antar manusia. Penggalan awal surat al-Mudassir, yang termasuk salah satu surat yang pertama kali turun, umpamanya, telah memuat hukum-hukum penting yang berkaitan dengan pemeliharaan keharmonisan dalam masyarakat.[20]

Dalam kaitannya dengan kemajemukan ditengah masyarakat, al-Quran menggelari umat Islam sebagai “ummatan wasathan” (umat pertengahan/moderat). Menurut Quraish Shihab, kata al-wasat sendiri pada awalnya berarti segala yang baik sesuai dengan objeknya. Sementara itu, sesuatu yang baik biasanya selalu berada diantara dua posisi ekstrim. Contohnya, keberanian adalah sifat pertengahan antara ceroboh dan takut, sementara kedermawanan merupakan pertengahan antara sifat boros dan kikir. [21] Dalam kaitannya dengan respon umat Islam terhadap pluralisme, al-Quran juga memberikan solusi “jalan tengah”. Tujuannya, agar umat Islam tetap terpelihara al-wasathiyah-nya. Solusi dimaksud adalah pertengahan antara sikap ta’ashub (fanatisme) dan liberal, yang kemudian dikenal dengan istilah samâhah atau tasâmuh (toleransi).

Jika dicermati dengan seksama, kata tasâmuh atau samahâh sendiri sebenarnya tidak ditemukan dalam al-Quran. Meskipun demikian, hal tersebut tentu saja tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa al-Quran tidak menyinggung serta mengajarkan toleransi. Ajaran al-Quran tentang hal ini, antara lain dapat ditelusuri dari penjelasannya tentang keadilan (al-‘adl atau al-qisth), kebajikan (al-birr), perdamaian (al-shulh atau al-salâm), dan lain sebagainya. Bahkan, penamaan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini dengan “al-Islâm”, sebenarnya telah cukup menjadi bukti bahwa kedatangan Islam adalah untuk menghadirkan rahmat dan kedamaian bagi alam semesta. Sementara itu, kedamaian tidak akan terwujud tanpa adanya suasana toleransi ditengah realitas kemajemukan yang tidak terhindarkan.

Diatas telah dijelaskan bahwa toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan. Didalamnya terkandung sikap saling menghargai dan menghormati eksistensi masing-masing pihak. Dalam kehidupan yang toleran, keseimbangan dalam hidup mendapatkan prioritasnya. Keanekaragaman tidak diposisikan sebagai ancaman, namun justru peluang untuk saling bersinergi secara positif. Dalam kacamata Islam, sikap seperti ini harus tetap dipelihara selama tidak ada pihak-pihak yang mencoba untuk merusak tatanan hidup yang ada tersebut. Hal ini berarti, jika keharmonisan dalam kemajemukan telah dirongrong oleh satu atau beberapa pihak, maka secara otomatis keberlangsungan toleransi akan turut terancam. Artinya, dibutuhkan sikap tegas dalam menghadapinya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

لا ينهكم الله عن الذين لم يقتلوكم فى الدين ولم يخرجوكم من دياركم ان تبروهم وتقسطوا اليهم ان الله يحب المقسطين. انما ينهكم الله عن الذين قتلوكم فى الدين واخرجوكم من دياركم وظهروا على اخراجكم ان تولوخم ومن يتولهم فاولئك هم الظلمون (الممتحنة: 8-9)

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Siapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”[22]

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sikap toleran yang pernah ditunjukkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta generasi-generasi muslim sesudahnya, baik terhadap sesama mereka maupun terhadap pihak-pihak lain yang, terutama, tidak seagama. Ajaran Islam yang terpatri kuat di dada mereka telah melahirkan sikap lapang dada yang luar biasa dalam menerima perbedaan yang ada. Perbedaan suku, umpamanya, tidak sedikitpun merintangi kaum Anshar untuk menerima dengan baik saudara-saudara mereka kaum Muhajirin, meskipun pada saat bersamaan mereka juga tidak bisa dikatakan berkecukupan secara material.[23] Demikian juga perbedaan warna kulit dengan yang lain, tidak pernah menghalangi Bilal untuk menjadi muazin Rasul SAW dan kaum muslim, sebagaimana perbedaan bangsa juga tidak merintangi Salman al-Farisi untuk menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah SAW. [24] Sebaliknya, semua muslim mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya dengan sebaik-baiknya (baca: beramal salih), tanpa harus teralienasi hanya karena perbedaan fisik, bahasa, atau suku bangsa. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

كلكم لآدم و آدم من تراب الآ لا فضل لعربى على اعجمى الا بالتقوى ( رواه احمد)[25]

“Kamu semua adalah keturunan Adam sedang Adam diciptakan dari debu. Tidak ada perbedaan antara Arab dengan yang lainnya, kecuali dengan ketakwaan” (HR. Ahmad).

Demikian juga halnya terhadap pihak-pihak yang berlainan agama, Rasulullah SAW tidak pernah mendiskreditkan eksistensi mereka atas dasar perbedaan akidah. Malah sebaliknya, Nabi SAW menerima dengan baik keberadaan mereka ditengah-tengah masyarakat muslim dan tidak sedikitpun memaksa mereka untuk mengikuti ajaran Islam.

Cukup banyak bukti historis yang dapat dikemukakan untuk mendukung klaim keadilan, kemanusiaan, kasih sayang, dan kebersamaan yang pernah ditunjukkan Rasulullah SAW dan generasi-generasi sesudahnya terhadap orang-orang yang tidak seagama. Semua perlakuan ini berhulu kepada prinsip toleransi yang dipegang dengan teguh, bukan sekedar lip service. Sebagai contoh, Imam al-Bukhari meriwayatkan:

عن انس رضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا وعرض عليه الاسلام فاسلم فخرج وهو يقول الحمد لله الذى انقذه من النار (رواه البخارى)[26]

“Dari Anas r.a: Suatu ketika Nabi SAW pernah menjenguk seorang Yahudi. Nabi SAW kemudian menawarkan kepadanya untuk masuk Islam dan orang Yahudi tersebut menerimanya. Nabi SAW lalu keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelematkannya dari api neraka.”

Dalam kesempatan lain, Nabi SAW memberikan contoh bertoleransi kepada para sahabatnya melalui tindakan konkrit yang ia lakukan.

روى جابر بن عبد الله قال: مرت بنا جنازة فقام النبى صلى الله عليه وسلم وقمنافقلنا يارسول الله انها جنازة يهودى فقال: اولست نفسا,اذا رايتم الجنازة فقوموا (رواه البخارى) [27]

“Jabir bin Abdullah berkata, “Suatu ketika lewat dihadapan kami orang-orang yang membawa jenazah seorang Yahudi. Nabi SAW lalu berdiri dan kamipun segera mengikutinya. Setelah itu kami berkata, “Wahai Rasulullah, yang lewat tadi adalah jenazah seorang Yahudi.” Rasulullah kemudian menjawab, ”Apakah aku ini juga tidak seorang manusia? Jika kamu sekalian melihat orang sedang lewat membawa jenazah, maka berdirilah!”

Tentang perlindungan terhadap orang-orang non-muslim yang dihidup di tengah-tengah komunitas umat Islam dan memiliki “kontrak” damai dengan kaum muslim, Nabi SAW bersabda:

من قتل معاهدا لم ير رائحة الجنة وان ريحها ليوجد مسيرة اربعين عاما (رواه البخارى)[28]

“Siapa yang membunuh orangkafir yang berada dalam perjanjian damai (dengan kaum muslim), maka tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga itu sudah dapat tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan”

Pendeklarasian Piagam Madinah (Mîsâq al-Madînah)[29] pada hakekatnya adalah contoh lain yang fenomenal dari praktek toleransi Islam. Keberadaan piagam ini telah menolak mentah-mentah tuduhan intoleransi yang dilontarkan para musuh Islam. Piagam Madinah berisi penegasan tentang kesetaraan fungsi dan kedudukan serta persamaan hak dan kewajiban antara umat muslim dan umat-umat lain yang tinggal di Medinah. Didalamnya secara eksplisit dinyatakan bahwa umat Yahudi dan yang lainnya adalah umat yang satu dengan kaum muslim. Mereka akan diperlakukan adil dan dijamin hak-haknya selama tidak melakukan kejahatan dan pengkhianatan. Dengan undang-undang inilah Rasulullah SAW menata kehidupan masyarakat Madinah yang plural. Dalam perkembangan selanjutnya, spirit dari Piagam Madinah tetap dipelihara oleh para penguasa muslim dari generasi ke generasi. (selengkapnya tentang bunyi pasal-pasal Piagam Madinah: lihat lampiran)

4. Dasar Pemikiran dan Batasan Toleransi menurut al-Quran dan Sunnah
Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa toleransi dalam Islam dibangun diatas beberapa landasan pokok, yaitu: [30]

a. prinsip tentang kemuliaan manusia betapapun beragamnya kehidupan mereka. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

ولقد كرمنا بنى ادم وحملناهم فى البر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن خلقنا تفضيلا (الاسراء: 70)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di lautanKami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”[31]

b. Keyakinan bahwa pluralisme sudah merupakan kehendak Allah SWT yang tidak akan mengalami perubahan. Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan pluralisme agama, Allah berfirman:

ولو شاء ربك لآمن من فى الأرض كلهم جميعا افانت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين (يونس: 99)
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka seluruhnya menjadi orang-orang yang beriman?” [32]

c. Umat Islam meyakini bahwa mereka tidak bertanggungjawab terhadap jalan hidup yang dipilih oleh umat-umat lain. Kewajiban mereka hanya berdakwah, sementara pilihan antara iman atau tidak adalah urusan masing-masing pihak dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman:

فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر (الكهف: 29)
“…maka siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir…” [33]

d. prinsip tentang keadilan, selama pihak lain berlaku sama. Allah SWT berfirman:
ولا يجرمنكم شنان قوم على الآتعدلوا اعدلوا هو اقرب للتقوى (المائدة: 8)

“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….” [34]
Apa yang disebutkan oleh Yusuf al-Qaradhawi diatas, pada hakikatnya merupakan penegasan bahwa ajaran Islam tentang toleransi tidak dibangun diatas landasan yang rapuh, sebaliknya pada ajaran-ajaran fundamental yang masing-masing saling terkait. Satu hal yang agaknya dapat melengkapi dasar-dasar diatas adalah bahwa parameter yang digunakan Islam dalam menilai sesuatu adalah parameter keruhanian (ketakwaan), bukan parameter fisik atau keduniaan. Hal ini terlihat pada kesan yang ditimbulkan oleh ayat dan hadis yang berbicara tentang kesetaran dan persamaan hak dan kewajiban secara umum.

Tentang batasan toleransi, Islam menekankannya pada prinsip keadilan. Surat al-Mumtahanah: 8-9, umpamanya, telah mencerminkan pola hubungan yang proporsional dan berkeadilan tersebut. Kesan yang dapat ditangkap dari ayat ini adalah bahwa toleransi dapat terus berjalan selama pihak luar berlaku adil terhadap umat Islam, dalam konteks ini adalah tidak memerangi kaum muslim karena alasan agama, tidak mengusir kaum muslim dari negeri-negeri mereka, atau berkonspirasi dengan pihak lain untuk mengusir umat Islam. Akan tetapi, jika yang terjadi justru sebaliknya, maka tidak berlaku toleransi. Artinya, umat Islam harus bersikap tegas dengan memerangi mereka.[35]

C. PENUTUP

Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa Islam bersikap sangat terbuka dengan kemajemukan. Bahkan, Islam memandangnya sebagai salah satu dari sunnatullah di alam ini. Keanekaragaman yang telah menjadi kehendak Allah tersebut, tentu saja bukan untuk dipertentangkan dan membawa kepada perpecahan. Akan tetapi dengan mensikapi secara positif dan konstruktif, pluralisme justru akan membawa manfaat yang besar terhadap kemaslahatan kehidupan manusia.

Toleransi dapat dikatakan sebagai jalan keluar yang dicetuskan Islam untuk mensikapi pluralisme. Banyak sekali ayat al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan referensi dalam menikmati hidup bertoleransi. Secara umum, al-Quran dan sunnah Nabi SAW menekankan pentingnya keadilan, kasih sayang dan kemanusiaan yang semuanya merupakan pilar-pilar toleransi. Hanya saja Islam menggarisbawahi bahwa toleransi hanya akan efektif jika masing-masing pihak tetap berjalan diatas relnya dan tidak merongrong eksistensi pihak lain. Dalam hal terjadi pengkhianatan terhadap nilai-nilai toleransi, maka Islam mengharuskan umat Islam bersikap tegas dengan memerangi pihak-pihak yang telah merusak harmoni ritme kehidupan tersebut.
-----------------------------
[1] al-Quran sendiri berulang kali menyatakan adanya upaya-upaya jahat seperti ini (dalam terminologi al-Quran: makr) yang dilakukan secara sistematis dan simultan oleh kelompok-kelompok yang membenci Islam. Lihat, diantaranya, Q.S 2:105, 2:109, 61:8, 3:118. Penyebutan secara berulang-ulang tersebut erat kaitannya dengan tujuan agar umat Islam senantiasa waspada dan mawas diri, karena konspirasi keji semacam itu tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun.
[2]Yusuf al-Qaradhawi. 1994. Fatâwâ Mu’âshirah. Manshurah: Dar al-Wafa’. Cet. ke-3. Jilid ke-2. h. 667
[3]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (selanjutnya ditulis Depdikbud RI). 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edisi ke-2. Cet. Ke-1. h. 1065
[4] Ibid.
[5]A. S. Hornby. 1986. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. London: Oxford University Press. Cet. ke-23. h. 909
[6]Abdul Malik Salman. 1993. al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât ka Dharûratin li al-Nahdhah. Kairo: The International Institute of Islamic Thought. h. 2
[7]Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. t. th. Lisân al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir. Cet. ke-1. Jilid 7. h. 249
[8] Ahmad Warson Munawwir. 1997. Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. Edisi ke-2. Cet. Ke-14. h. 657
[9]Abdul Malik Salman. Loc.cit.
[10] A. S. Hornby. Op.cit. h. 735
[11]Depdikbud RI, Op.cit. h. 777
[12]Muhammad Quraish Shihab. 1996. Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan, Cet. ke-3. h. 320. Ayat yang dimaksud adalah surat al-‘Alaq (96): 2, yaitu:
خلق الانسان من علق (العلق: 2)
[13] al-Quran menyebut kelompok-kelompok spesies tersebut dengan “umat”. Istilah ini tidak saja ditujukan kepada komunitas manusia, namun juga terhadap himpunan-himpunan makhluk lainnya, seperti burung, binatang melata, dan sebagainya (perhatikan firman Allah dalam surat al-An’am (6): 38).
[14] Muhammad Imarah. 1997. al-Ta’addudiyyah:: al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa al-Tahaddiyyat al-Gharbiyyah. Mesir: Dar al-Nahdhah. h. 4. Dalam hal ini ia menyatakan:
واذا كانت الرؤية الاسلامية قد قصرت "الوحدة" التي لا تركب فيه ا ولا تعدد لها ...على الذات االالهية وحدها دون كل المخلوقات والمحدثات والموجودات فى كل ميادين الخلق المادية والحيوانية والانسانية والفكرية. تلك التى قامت جميعها على التعدد والتزوج والنركب والارتفاق. فان هذه الرؤية االاسلامية تكون بهذا " سنة " من سسن الله سبحانه و تعالى فى الخلق والمخلوقات جميعا و اية من الآيات
التى لا تبديل لها ولا تحويل
[15] Kementerian Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah, dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia (selanjutnya ditulis Kementerian Urusan Agama Islam KSA). 1997. al-Quran dan Terjemahnya. Medinah al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd. h. 644
[16]Ibid. h. 847
[17] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op.cit.. h. 168
[18] al-Husein bin Muhammad al-Raghib al-Asfahani. 1997. Mu’jam al-Mufradât li Alfâdz al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Cet ke-1. h. 108. Contoh lain dari penggunaan kata law dalam arti seperti diatas adalah firman Allah dalam surat Hud (11); 118, yaitu:
ولو شاء ربك لجغل الناس امة واحدة ولا يزالون مختلفين (هود: 118)
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”. Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op. Cit.. h. 345.
al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini berpendapat bahwa di dalam ayat ini jelas terkandung sunnatullah kemajemukan. Bahkan, katanya, demi pluralisme itulah Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini ( للاختلاف خلقهم. ). Lih: Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. t. th. Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Quran. Mesir: Dar al-Kutub al-Mishriyyah. Jilid ke-9. h. 114-115
[19]Kesan ini akan menjadi lebih jelas jika diamati firman Allah SWT dalam surat al-Zukhruf (43): 32, yaitu:
اهم يقسمون رحمة ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم فى الحيوة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضا سخريا ورحمة ربك خير مما يجمعون (الزخرف: 32)
“ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op.cit. h. 798. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada tersebut ditujukan agar manusia dapat saling memanfaatkan. Dengan demikian mereka akan saling membutuhkan dan mengadakan interaksi satu sama lain.
[20] Ayat dimaksud adalah ayat ke- 6 yang berbunyi:
ولا تمنن تستكثر (المدثر: 6)
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”. Kementerian urusan Agama Islam KSA. Op.cit. h. 992
[21] Muhammad Quraish Shihab. Op.cit. h. 328
[22] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op.cit. h.
[23] al-Quran mengabadikan sikap terpuji ini dalam surat al-Hasyr (58): 9
[24] Saking dekatnya dengan Nabi SAW, Salman bahkan sebut Nabi SAW sebagai “minnâ ahl al-bait” (termasuk ahl al-bait). Salman mendapatkan kehormatan tersebut antara lain dikarenakan kedudukan rohaniahnya yang sudah begitu tinggi, sampai mencapai sisi kesucian rohani seperti kesucian ahl al-bait. Jalaludin Rakhmat. 2002 Renungan-Renungan Sufistik. Bandung: Mizan. Cet. ke-14. h. 284
[25] Ahmad ibn Hanbal. 1993. Musnad Ahmad ibn Hanbal. Beirut: al-Maktab al-Islâmi. Cet. Ke-1. Jilid 5. h. 411
[26]Muhammad bin Ismail bin Ibrahim. 2001. Shahîh al-Bukhâri. Kairo: Dar al-Taqwa li al-Turast. Cet. Ke-1. Jilid.2. h. 539
[27] Ibid. Jilid. 1. h. 314
[28] Ibid. Jilid 2. h. 132
[29] Dalam tulisan-tulisan para sejarawan muslim generasi awal, istilah yang dipakai dalam menyebut Piagam Madinah adalah Shahîfah Madînah. Namun kemudian dalam literatur-literatur belakangan, istilah yang sering muncul adalah mîtsâq (charter), dustûr (constitution), dan deklarasi. Lih: Akram Diya al-Umari. Op.cit. h. 87
[30] Yusuf al-Qaradhawi. Op.cit. h. 677-678
[31] Kementerian Urusan Agama Islam KSA. Op.cit. h.435
[32]Ibid. h. 322
[33]Ibid. h. 448
[34] Ibid. h. 159
[35]Ismail bin Katsir. 1990. Tafsîr al-Quran al-‘Adzîm. Beirut: Dar al-Jil. Jilid-4. h. 349-350
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi. t. th. Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Quran. Mesir: Dar al-Kutub al-mishriyyah. Jilid-9
Abdul Malik Salman. 1993. al-Tasâmuh Tijâh al-Aqaliyyât Kadharûrotin li al-Nahdhah. Kairo: IIIT
Adib Ishaq, al-Afghani, dkk. 1993. Adhwâ’ ‘alâ al-Ta’ashub. Beirut: Dar Amwaj. Cet. Ke-1
Ahmad al-Makhzanji, 1987. al-‘Adl wa al-Tasâmuh al-Islâmiy. Kairo: Muassasah al-Ahram
Ahmad Warson Munawwir. 1997. Kamus al-Munawwir Arab- Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progresif. Cet. Ke-14. edisi ke-2.
Ali Hasan al-Kharbuthali. 1969. al-Islâm wa Ahl al-Dzimmah. Kairo: Majlis al-A’la li al-Syu’un al-Islamiyyah
Akram Diya al-Umari. 1995. Madinan Society at the Time of the Prophet. Riyad. International Islamic Publishing House. Cet. Ke-2
Al-Husein bin Muhammad a-Raghib al-Asfahani. 1997. Mu’jam Mufradât li Alfâdz al-Quran. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Cet. Ke-1
Ali Abu al-Makarim (Ed.), t. th. Kitâb al-Muktamar al-Dauliy al-Khâmis li al-Falsafah al-Islâmiyyah. Kairo: Universitas Kairo
A. S. Hornby. 1986. Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English. London: Oxford University Press. Cet. Ke-23
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Edisi-2. cet. Ke-1
Husnain Taufik Ibrahim. 1998. al-Nidzâm al-Siyâsi wa al-Ikhwân al-Muslimûn fî Mishr: min al-Tasâmuh ilâ al-Muwâjahah. Beirut: Dar al-Thali’ah. Cet. Ke-1
In’am Mahmud Hamad. t. th. al-Tasâmuh fi al-Islâm wa Atsaruhu fi Dar’I al-Ta’ashub wa al-Irhâb. Kairo: al-Jami’ah al-Qahirah
Ismail bin Katsir. 1990. Tafsîr al-Quran al-‘Adzîm. Beirut: Dar al-Jil. Jilid-4
Jamal al-Banna. t. th. al-Ta’addudiyyah fî Mujtama’ Islâmiy. Kairo: Dar al-Ma’arif al-Islamiy
Jalaludin Rakhmat. 2002 Renungan-Renungan Sufistik. Bandung: Mizan. Cet. Ke-14
Jamaluddin Muhammad bin Mukram Ibn al-Mandzur. t. th. Lisân al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir. Cet. Ke-1
Kementerian Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah, dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia. 1997. al-Quran dan Terjemahnya. Madinah al-Munawwarah:. Mujamma’ al-Malik Fahd
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris. 1994. al-Ta’addudiyyah al-Siyâsiyyah fî Dzilli al-Daulah al-Islâmiyyah. Beirut: Muassasah al-Rayyan. Cet. Ke-1
Muhammad al-Ghazali. 1993. al-Ta’ashub wa al-Tasâmuh baina al-Masîhiyyah wa al-Islâm. Kairo: Dar al-Tauzi’ wa al-Nasyr al-Islamiyyah. Cet. Ke-2
Muhammad al-Ahin bin Muhammad al-Mukhtar al-Syarqithi. 1995. Adhwâ’ al-Bayân fî Idhâh al-Quran bi al-Quran. Beirut: Dar al-Fikr. Jilid-8
Muhammad Imarah. 1997. al-Ta’addudiyyah: al-Ru’yat al-Islâmiyyah wa al-Tahaddiyyat al-Gharbiyyah. Mesir: Dar al-nahdhah
Muhammad Quraish Shihab. 2001. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati. Cet. Ke-1
-------. 1996. Wawasan al-Quran. Bandung: Mizan. Cet. Ke-3
Yusuf al-Qaradhawi. 2000. al-Aqaliyyât al-Dîniyyah wa al-Hill al-Islâmiy. Beirut: Muassasah al-Risalah. Cet. Ke-1
-------. 1977. Ghairu al-Muslimîn fî al-Mujtama’ al-Islâmiy. Kairo: Maktabah Wahbah. Cet. Ke-1
-------. 1994. Fatâwâ Mu’âshirah. Manshurah: Dar al-Wafa’. Cet. Ke-3. Jilid-2.

http://makalah-artikel.blogspot.com/2007/11/makalah-toleransi-dalam-islam.html

Membuat Anti Virus pada FLASHDISK

Membuat Anti Virus pada FLASHDISK
Muhammad Ismail bss., 10/14/2008

Membuat Anti Virus pada FLASHDISK



Tulisan ini hanya di tujukan para newbie seperti 'ane, jadi kalo mas mas, mbak mbak, om om , n' tante yang udah pinter, mendingan baca artikel lain aje....ye....
Penulis tidak menjamin jika ente kelak bakal mati kebosanan karena membaca artikel ini.
Terima Kasih.

Mungkin pembaca udah tau cara kuno begini ya.... tapi apalah daya, cuma sekedar berbagi ilmu yang ane poenya.
oke...langsung aja ye..
mungkin udah pada tau ya... gimana cara membuat AUTORUN pada flashdisk.. nah kita akan memanfaatkan script untuk membuat autorun tersebut untuk mengaktifkan anti virus yang nantinya kita copy pada flashdisk kita..


software pertama yang kita perlukan ya jelas aja ANTIVIRUS berukuran kecil [[banyak berserakan di internet.. tinggal tanya aja ama paman google]] contohnya PCMAV, ANSAV .. dll.. pokoknya banyak dah

oke deh ... kita buat script dulu untuk autorun di flashdisk kita ...
tinggal ketik aja di notepad

[Autorun]
open=namaantivirus.exe
shellexecute=namaantivirus.exe
shellScan_Virus_dulu_Dunkz!!!command=namaantivirus.exe
shell=Scan_Virus_dulu_Dunkz!!!



udah ente copy pa belum tu script
kalo udah ya lanjut donk mas............
kita save dengan nama “autorun.inf”(gak pake' tanda kutip) di flashdisk kita
sekarang tinggal kita copy aja antivirus yang mau kita masukin ke flashdisk ....!!
(inget .....kalo ngopy file autorun n' antivirus bukan di dalam folder)

jadi deh (^_*)! kalo mau scan virus tinggal double click aja tuh flashdisk kita !!
kalo kita klik kanan drive flashdisk bakalan ada tambahan kata
diatas kata Search….
Scan_Virus_dulu_Dunkz!!! ......................../hehehe

kalo mau diubah ya tinggal ganti aja kata-kata yang ada di dalam script..!!
shellkata-kata_andacommand=antivirus.exe
shell=kata-kata_anda
lho....gimana cara buka flashdisk nya nehh !! ??

xixixixi.....gak mungkin lah gak pada tau ,.... tinggal klik kanan aja drive nya terus pilih open .....!
oya... gak bagus ya kalo di dalam flashdisk kita ada keliatan nama dile AUTORUN n' antivirusnya ... ngerusak pemandangan getyu...

kalo gitu tinggal kita ubah aja attributnya jadi super hidden :-)
(tu bahasa gaulnya) heheheh.........

caranya
--buka RUN dari start menu
--terus ketik cmd
--abiz itu....kita masuk ke dalam drive flashdisk (biasanya drive f:)
--udah gtyu ya kita tulis commandnya

f:>attrib +s +h namaantivirus.exe (buat hidden antivirusnya)
f:>attrib +s +h autorun.inf (buat hidden file autorun)


tara.... ilang deh file nya/?...........

flashdisk siap dipergunakan:-)


©yogyafree

http://kuravista.blogspot.com/2008/10/membuat-anti-virus-pada-flashdisk.html

Sabtu, 05 Maret 2011

islam

Islam
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Islam
Allah-eser-green.png
Rasul

Nabi Muhammad SAW
.
Kitab Suci

Al-Qur'an
.
Rukun Islam
1. Syahadat · 2. Salat · 3. Puasa
4. Zakat · 5. Haji
Rukun Iman
Iman kepada : 1. Allah
2. Malaikat · 3. Al-Qur'an ·4. Nabi
5. Hari Akhir · 6. Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul · Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah · & · Madinah
Kota suci lainnya
Yerusalem · Najaf · Karbala
Kufah · Kazimain
Mashhad ·Istanbul · Ghadir Khum
Hari Raya
Idul Fitri · & · Idul Adha
Hari besar lainnya
Isra dan Mi'raj · Maulid Nabi
Asyura
Arsitektur
Masjid ·Menara ·Mihrab
Ka'bah · Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah ·Ulama ·Muadzin
Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
Hukum Islam
Al-Qur'an ·Hadist
Sunnah · Fiqih · Fatwa
Syariat · Ijtihad
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab
1. Sunni :
Hanafi ·Hambali
Maliki ·Syafi'i
2. Syi'ah :
Dua Belas Imam
Ismailiyah·Zaidiyah
3. Lain-lain :
Ibadi · Khawarij
Murji'ah·Mu'taziliyah
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam
lihat • bicara • sunting

Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan (bantuan·info): "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Aspek kebahasaan
* 2 Kepercayaan
o 2.1 Lima Rukun Islam
o 2.2 Enam Rukun Iman
* 3 Ajaran Islam
o 3.1 Allah
o 3.2 Al-Qur'an
o 3.3 Nabi Muhammad S.A.W
* 4 Sejarah
o 4.1 Masa sebelum kedatangan Islam
o 4.2 Masa awal
o 4.3 Khalifah Rasyidin
o 4.4 Masa kekhalifahan selanjutnya
* 5 Demografi
* 6 Tempat ibadah
* 7 Lihat pula
* 8 Catatan kaki
* 9 Daftar pustaka
o 9.1 Buku dan jurnal
o 9.2 Ensiklopedia
o 9.3 Bacaan lebih lanjut
* 10 Pranala luar

[sunting] Aspek kebahasaan

Kata Islam merupakan penyataan kata nama yang berasal dari akar triliteral s-l-m, dan didapat dari tatabahasa bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk." Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."[7] Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."[8] Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.[9]

Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'Muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" dalam bahasa Indonesia.
[sunting] Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "Laa ilaha illallah, Muhammadar Rasulullah" - yang berarti "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mewahyukan al-Qur'an kepada Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin (Penutup Para Nabi) dan menganggap bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.[10] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai pembaharu dari keimanan monoteistik dari Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya (untuk lebih lanjutnya, silakan baca artikel mengenai Para nabi dan rasul dalam Islam). Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[11]

Umat Islam juga meyakini al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup mereka yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat.

Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya.[12] Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Umat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim.[13][14] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[15] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.[16]
[sunting] Lima Rukun Islam
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.[18]

Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:

1. Mengucap dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
4. Membayar zakat.
5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

[sunting] Enam Rukun Iman
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:

1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat Allah
3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
5. Iman kepada hari kiamat
6. Iman kepada qada dan qadar


[sunting] Ajaran Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebahagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[19] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, adalah negara Muslim terbesar berdasarkan populasinya.[20]

Negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan sedangkan negara dengan mayoritas Islam Syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara Sunni dan Syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dan peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Muhammad). Namun secara umum, baik Sunni maupun Syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.
[sunting] Allah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Allah dan Tauhid

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid-kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; kebanyakan ilmuwan[rujukan?] percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh ' (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh '), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari Arami Alāhā.[21] Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:


لا إله إلا الله محمد رسول الله

Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah


Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana pada Surah Al-Ikhlas yang terjemahannya adalah:

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Nama "Allah" tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur'an dikatakan:

"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat". (Asy-Syu'ara' [42]:11)

Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku". (Ta Ha [20]:14)

Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme.

Mengutip al-Qur'an, An-Nisa' [4]:71:

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".

Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syu'ara' [42]:11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur'an.
[sunting] Al-Qur'an
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Al Qur'an
Al-Fatihah merupakan surah pertama dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur'an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur'an yang ada saat ini, pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.[22]

Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung).[23] Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).

Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun hasil usaha mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.
[sunting] Nabi Muhammad S.A.W
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Muhammad dan hadits

Muhammad (570-632) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.

Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.
[sunting] Sejarah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Islam
[sunting] Masa sebelum kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikan satu antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka'bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
[sunting] Masa awal
Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).

Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.

Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: As-Sabiqun al-Awwalun

Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.

Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah dasar permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah umat Islam. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.

Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.
[sunting] Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang baik diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.
[sunting] Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah", atau kadang-kadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.

Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.

Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.

Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.
[sunting] Demografi
Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi.

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.

Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. [1]. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim [2]. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat. [3]
[sunting] Tempat ibadah
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masjid

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain salat berjama'ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur'an) dan lain sebagainya.
[sunting] Lihat pula

* Agama & Din
* Ar-Rabb , Al-Malik , Ilah
* Asma'ul Husna
* Bersuci dari hadas
* Cendekiawan Muslim
* Daftar topik agama Islam
* Hari Asyura
* Hidayatullah
* Isra' Mi'raj
* Jihad
* Kemurtadan
* Nabi Islam
* Perbankan syariah
* Puasa (Islam)
* Rasulullah
* Seni rupa Islam
* Shiratal Mustaqim
* Sunni & Syi'ah
* Ulama
* Waktu haram puasa
* Salafus Shalih
* Sejarah Islam di Indonesia

Topik Islam
Akidah Haji | Puasa | Syahadat | Salat | Zakat | Tauhid
Tokoh Islam Muhammad | Nabi-nabi | Ahlul Bait | Sahabat
Teks dan peraturan Al Qur'an | Fiqih | Hadist | Kalam | Sirah | Syari'ah
Aliran Sunni: Hanafi, Hambali, Maliki, Syafi'i | Syi'ah: Dua Belas Imam, Ismailiyah, Zaidiyah | Lain-lain: Ibadi, Khawarij, Murji'ah, Mu'taziliyah
Gerakan Islam Hizbut Tahrir | Ikhwanul Muslimin | Sufisme | Wahhabi | Salafiyah
Negara Islam di Afrika: Aljazair, Chad, Djibouti, Guinea, Libya, Mali, Mauritania, Maroko, Mesir, Nigeria, Sahara, Somalia, Senegal, Sudan, Tunisia | di Asia: Afganistan, Arab Saudi, Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Brunei, Indonesia, Irak, Iran, Kirgizstan, Kuwait, Malaysia, Maladewa, Lebanon, Oman, Pakistan, Suriah, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Uni Emirat Arab | di Eropa: Albania, Bosnia-Herzegovina, Kosovo, Turki
Lainnya Indeks artikel tentang Islam
[sunting] Catatan kaki

1. ^ Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR), Copyright © 2007.
2. ^ Religions & Ethics: Islam at a glance, BBC - homepage, © MMVII.
3. ^ "Major Religions of the World—Ranked by Number of Adherents" (HTML). http://www.adherents.com/Religions_By_Adherents.html#Islam. Diakses pada 3 Juli 2007.
4. ^ USC-MSA Compendium of Muslim Texts
5. ^ L. Gardet; J. Jomier "Islam". Encyclopaedia of Islam Online. Diakses pada 2007-05-02.
6. ^ "Lane's lexicon". http://www.studyquran.org/LaneLexicon/Volume4/00000137.pdf. Diakses pada 3 Juli 2007.
7. ^ Qur'an 6:125, Qur'an 61:7, Qur'an 39:22
8. ^ Qur'an 5:3, Qur'an 3:19, Qur'an 3:83
9. ^ Lihat:
* Qur'an 9:74, Qur'an 49:14
* L. Gardet; J. Jomier "Islam". Encyclopaedia of Islam Online. Diakses pada 2007-05-02.
10. ^ Lihat:
* Esposito (1996), p.41
* Ghamidi (2001): Sources of Islam
11. ^ Lihat:
* Accad (2003): According to Ibn Taymiya, although only some Muslims accept the textual veracity of the entire Bible, most Muslims will grant the veracity of most of it.
* Esposito (1998), pp.6,12
* Esposito (2002b), pp.4-5
* F. E. Peters (2003), p.9
* F. Buhl; A. T. Welch "Muhammad". Encyclopedia of Islam Online. Diakses pada 2007-05-02.
* Hava Lazarus-Yafeh "Tahrif". Encyclopedia of Islam Online. Diakses pada 2007-05-02.
12. ^ Lihat:
* Qur'an 2:4
13. ^ Lihat:
* Qur'an 2:130
14. ^ Surah Yunus 10:72 "...dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (Muslim)."
15. ^ Lihat:
* Esposito (2002b), p.21
* Esposito (2004), pp.2,43
16. ^ Lihat Demografi Islam
17. ^ Esposito (2002b), p.17
18. ^ Lihat:
* Esposito (2002b), pp.111,112,118
* "Shari'ah". Encyclopaedia Britannica Online. Diakses pada 2007-05-02.
19. ^ Lihat:
* Esposito (2002b), p.21
* Esposito (2004), pp.2,43
20. ^ Lihat [[Demografi Islam|]]
21. ^ Lihat:
* "Islam and Christianity", Encyclopedia of Christianity (2001): Arabic-speaking Christians and Jews also refer to God as Allāh.
* L. Gardet "Allah". Encyclopaedia of Islam Online. Diakses pada 2007-05-02.
22. ^ Al-Qaththan, Syaikh Manna' Khalil. Mahabits fi 'Ulum Al-Qur'an (Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an), Pustaka Al-Kautsar, 2006, Jakarta.
23. ^ Nasr, Seyyed Hossein (2007). "Qur’an". Encyclopedia Britannica Online. Diakses pada 2007-11-4.

[sunting] Daftar pustaka
[sunting] Buku dan jurnal

* Accad, Martin (2003). "The Gospels in the Muslim Discourse of the Ninth to the Fourteenth Centuries: An Exegetical Inventorial Table (Part I)". Islam and Christian-Muslim Relations 14 (1). ISSN 0959-6410.
* Adil, Hajjah Amina (2002). Muhammad: The Messenger of Islam. Islamic Supreme Council of America. ISBN 978-1-930409-11-8.
* Ahmed, Akbar (1999). Islam Today: A Short Introduction to the Muslim World (edisi ke-2.00). I. B. Tauris. ISBN 978-1-86064-257-9.
* Brockopp, Jonathan E. (2003). Islamic Ethics of Life: abortion, war and euthanasia. University of South Carolina press. ISBN 1-57003-471-0.
* Cohen-Mor, Dalya (2001). A Matter of Fate: The Concept of Fate in the Arab World as Reflected in Modern Arabic Literature. Oxford University Press. ISBN 0-19-513398-6.
* Curtis, Patricia A. (2005). A Guide to Food Laws and Regulations. Blackwell Publishing Professional. ISBN 978-0-8138-1946-4.
* Eglash, Ron (1999). African Fractals: Modern Computing and Indigenous Design. Rutgers University Press. ISBN 0-8135-2614-0.
* Ernst, Carl (2004). Following Muhammad: Rethinking Islam in the Contemporary World. University of North Carolina Press. ISBN 0-8078-5577-4.
* Esposito, John (1996). Islam and Democracy. Oxford University Press. ISBN 0-19-510816-7.
* Esposito, John (1998). Islam: The Straight Path (edisi ke-3rd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-511234-4.
* Esposito, John (2000a). Muslims on the Americanization Path?. Oxford University Press. ISBN 0-19-513526-1.
* Esposito, John (2000b). Oxford History of Islam. Oxford University Press. 978-0195107999.
* Esposito, John (2002a). Unholy War: Terror in the Name of Islam. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-516886-0.
* Esposito, John (2002b). What Everyone Needs to Know about Islam. Oxford University Press. ISBN 0-19-515713-3.
* Esposito, John (2003). The Oxford Dictionary of Islam. Oxford University Press. ISBN 0-19-512558-4.
* Esposito, John (2004). Islam: The Straight Path (edisi ke-3rd Rev Upd). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-518266-8.
* Farah, Caesar (1994). Islam: Beliefs and Observances (edisi ke-5th). Barron's Educational Series. ISBN 978-0-8120-1853-0.
* Farah, Caesar (2003). Islam: Beliefs and Observances (edisi ke-7th). Barron's Educational Series. ISBN 978-0-7641-2226-2.
* Firestone, Rueven (1999). Jihad: The Origin of Holy War in Islam. Oxford University Press. ISBN 0-19-512580-0.
* Friedmann, Yohanan (2003). Tolerance and Coercion in Islam: Interfaith Relations in the Muslim Tradition. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-02699-4.
* Ghamidi, Javed (2001). Mizan. Dar al-Ishraq. OCLC 52901690.
* Goldschmidt, Jr., Arthur (2005). A Concise History of the Middle East (edisi ke-8th). Westview Press. ISBN 978-0-8133-4275-7.
* Griffith, Ruth Marie (2006). Women and Religion in the African Diaspora: Knowledge, Power, and Performance. Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-8370-9.
* Hawting, G. R. (2000). The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750. Routledge. ISBN 0-415-24073-5.
* Hedayetullah, Muhammad (2006). Dynamics of Islam: An Exposition. Trafford Publishing. ISBN 978-1-55369-842-5.
* Holt, P. M. (1977a). Cambridge History of Islam, Vol. 1. Cambridge University Press. ISBN 0-521-29136-4.
* Holt, P. M. (1977b). Cambridge History of Islam, Vol. 2. Cambridge University Press. ISBN 0-521-29137-2.
* Hourani, Albert (2003). A History of the Arab Peoples. Belknap Press; Revised edition. ISBN 978-0-674-01017-8.
* Humphreys, Stephen (2005). Between Memory and Desire. University of California Press. ISBN 0-520-24691-8.
* Kobeisy, Ahmed Nezar (2004). Counseling American Muslims: Understanding the Faith and Helping the People. Praeger Publishers. ISBN 978-0-313-32472-7.
* Koprulu, Mehmed Fuad (1992). The Origins of the Ottoman Empire. SUNY Press. ISBN 0-7914-0819-1.
* Kramer, Martin (1987). Shi'Ism, Resistance, and Revolution. Westview Press. ISBN 978-0-8133-0453-3.
* Kugle, Scott Alan (2006). Rebel Between Spirit And Law: Ahmad Zarruq, Sainthood, And Authority in Islam. Indiana University Press. ISBN 0-253-34711-4.
* Lapidus, Ira (2002). A History of Islamic Societies (edisi ke-2nd). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77933-3.
* Lewis, Bernard (1984). The Jews of Islam. Routledge & Kegan Paul. ISBN 0-7102-0462-0.
* Lewis, Bernard (1993). The Arabs in History. Oxford University Press. ISBN 0-19-285258-2.
* Lewis, Bernard (1997). The Middle East. Scribner. ISBN 978-0-684-83280-7.
* Lewis, Bernard (2001). Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East (edisi ke-2nd). Open Court. ISBN 978-0-8126-9518-2.
* Lewis, Bernard (2003). What Went Wrong?: The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East (edisi ke-Reprint). Harper Perennial. ISBN 978-0-06-051605-5.
* Lewis, Bernard (2004). The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror. Random House, Inc., New York. ISBN 978-0-8129-6785-2.
* Madelung, Wilferd (1996). The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge University Press. ISBN 0-521-64696-0.
* Malik, Jamal (2006). Sufism in the West. Routledge. ISBN 0-415-27408-7.
* Menski, Werner F. (2006). Comparative Law in a Global Context: The Legal Systems of Asia and Africa. Cambridge University Press. ISBN 0-521-85859-3.
* Mohammad, Noor (1985). "The Doctrine of Jihad: An Introduction". Journal of Law and Religion 3 (2).
* Momen, Moojan (1987). An Introduction to Shi`i Islam: The History and Doctrines of Twelver Shi`ism. Yale University Press. ISBN 978-0-300-03531-5.
* Nasr, Seyed Muhammad (1994). Our Religions: The Seven World Religions Introduced by Preeminent Scholars from Each Tradition (Chapter 7). HarperCollins. ISBN 0-06-067700-7.
* Novak, David (February 1999). "The Mind of Maimonides". First Things.
* Parrinder, Geoffrey (1971). World Religions: From Ancient History to the Present. Hamlyn Publishing Group Limited. ISBN 0-87196-129-6.
* Patton, Walter M. (April 1900). "The Doctrine of Freedom in the Korân". The American Journal of Semitic Languages and Literatures (Brill Academic Publishers) 16 (3). ISBN 90-04-10314-7.
* Peters, F. E. (1991). "The Quest for Historical Muhammad". International Journal of Middle East Studies.
* Peters, F. E. (2003). Islam: A Guide for Jews and Christians. Princeton University Press. ISBN 0-691-11553-2.
* Peters, Rudolph (1977). Jihad in Medieval and Modern Islam. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-04854-5.
* Ruthven, Malise (2005). Fundamentalism: The Search for Meaning. Oxford University Press. ISBN 0-19-280606-8.
* Sahas, Daniel J. (1997). John of Damascus on Islam: The Heresy of the Ishmaelites. Brill Academic Publishers. ISBN 978-90-04-03495-2.
* Sachedina, Abdulaziz (1998). The Just Ruler in Shi'ite Islam: The Comprehensive Authority of the Jurist in Imamite Jurisprudence. Oxford University Press US. ISBN 0-19-511915-0.
* Seibert, Robert F. (1994). "Review: Islam and the West: The Making of an Image (Norman Daniel)". Review of Religious Research 36 (1).
* Sells, Michael Anthony (2003). The New Crusades: Constructing the Muslim Enemy. Columbia University Press. ISBN 0-231-12667-0.
* Smith, Jane I. (2006). The Islamic Understanding of Death and Resurrection. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-515649-2.
* Spencer, Robert (2005). The Myth of Islamic Tolerance: How Islamic Law Treats Non-Muslims. Prometheus Books. ISBN 978-1-59102-249-7.
* Stillman, Norman (1979). The Jews of Arab Lands: A History and Source Book. Philadelphia: Jewish Publication Society of America. ISBN 1-82760-198-1.
* Tabatabae, Sayyid Mohammad Hosayn (1979). Shi'ite Islam. Suny press. ISBN 0-87395-272-3.
* Tabatabae, Sayyid Mohammad Hosayn (2002). Islamic teachings: An Overview and a Glance at the Life of the Holy Prophet of Islam. Green Gold. ISBN 0-922817-00-6.
* Teece, Geoff (2003). Religion in Focus: Islam. Franklin Watts Ltd. ISBN 978-0-7496-4796-4.
* Trimingham, John Spencer (1998). The Sufi Orders in Islam. Oxford University Press. ISBN 0-19-512058-2.
* Tritton, Arthur S. (1970) [1930]. The Caliphs and their Non-Muslim Subjects: A Critical Study of the Covenant of Umar. London: Frank Cass Publisher. ISBN 0-7146-1996-5.
* Turner, Colin (2006). Islam: the Basics. Routledge (UK). ISBN 0-415-34106-X.
* Turner, Bryan S. (1998). Weber and Islam. Routledge (UK). ISBN 0-415-17458-9.
* Waines, David (2003). An Introduction to Islam. Cambridge University Press. ISBN 0-521-53906-4.
* Warraq, Ibn (2000). The Quest for Historical Muhammad. Prometheus. ISBN 978-1-57392-787-1.
* Warraq, Ibn (2003). Leaving Islam: Apostates Speak Out. Prometheus. ISBN 1-59102-068-9.
* Watt, W. Montgomery (1973). The Formative Period of Islamic Thought. University Press Edinburgh. ISBN 0-85-224254-X.
* Watt, W. Montgomery (1974). Muhammad: Prophet and Statesman (edisi ke-New). Oxford University Press. ISBN 0-19-881078-4.
* Weiss, Bernard G. (2002). Studies in Islamic Legal Theory. Boston: Brill Academic publishers. ISBN 90-04-12066-1.
* Williams, John Alden (1994). The Word of Islam. University of Texas Press. ISBN 0-292-79076-7.
* Williams, Mary E. (2000). The Middle East. Greenhaven Pr. ISBN 0-7377-0133-1.

[sunting] Ensiklopedia

* Berkshire Encyclopedia of World History. (2005). Ed. William H. McNeill, Jerry H. Bentley, David Christian. Berkshire Publishing Group. ISBN 978-0-9743091-0-1.
* Catholic Encyclopedia. (1910). Ed. Gabriel Oussani.
* The Columbia Encyclopedia (6th). (2000). Ed. Paul Lagasse, Lora Goldman, Archie Hobson, Susan R. Norton. Gale Group. ISBN 978-1-59339-236-9.
* Encyclopaedia Britannica Online. Encyclopaedia Britannica, Inc..
* Encyclopedia of Christianity (1st). (2001). Ed. Erwin Fahlbusch, William Geoffrey Bromiley. Eerdmans Publishing Company, and Brill. ISBN 0-8028-2414-5.
* Encyclopedia of Christianity (1st). (2005). Ed. John Bowden. Oxford University Press. ISBN 0-19-522393-4.
* Encyclopedia of the Future. (1995). Ed. George Thomas Kurian, Graham T. T. Molitor. MacMillan Reference Books. ISBN 978-0-02-897205-3.
* Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-3912.
* Encyclopedia of Islam and the Muslim World. (2003). Ed. Richard C. Martin, Said Amir Arjomand, Marcia Hermansen, Abdulkader Tayob, Rochelle Davis, John Obert Voll. MacMillan Reference Books. ISBN 978-0-02-865603-8.
* Encyclopaedia of the Qur'an Online. Ed. Jane Dammen McAuliffe. Brill Academic Publishers.
* Encyclopedia of Religion (2nd). (2005). Ed. Lindsay Jones. MacMillan Reference Books. ISBN 978-0-02-865733-2.
* Encyclopedia of Religious Rites, Rituals, and Festivals (1st). (2004). Ed. Salamone Frank. Routledge. ISBN 978-0-415-94180-8.
* The Encyclopedia of World History Online (6th). (2000). Ed. Peter N. Stearns. Bartleby.
* Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia. (2005). Ed. Josef W. Meri. Routledge. ISBN 0-415-96690-6.
* Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions. (1999). Ed. Wendy Doniger. Merriam-Webster. ISBN 0-87779-044-2.
* New Encyclopedia of Islam: A Revised Edition of the Concise Encyclopedia of Islam. (2003). Ed. Glasse Cyril. AltaMira Press. ISSN 978-0759101906.
* Routledge Encyclopedia of Philosophy (1st). (1998). Ed. Edward Craig. Routledge. ISBN 978-0-415-07310-3.

[sunting] Bacaan lebih lanjut

* Arberry, A. J. (1996). The Koran Interpreted: A Translation (edisi ke-1st). Touchstone. ISBN 978-0-684-82507-6.
* Hawting, Gerald R. (2000). The First Dynasty of Islam: The Umayyard Caliphate AD 661–750. Routledge. ISBN 0-415-24072-7.
* Khan, Muhammad Muhsin (1999). Noble Quran (edisi ke-1st). Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-9960-740-79-9.
* Kramer (ed.), Martin (1999). The Jewish Discovery of Islam: Studies in Honor of Bernard Lewis. Syracuse University. ISBN 978-965-224-040-8.
* Kuban, Dogan (1974). Muslim Religious Architecture. Brill Academic Publishers. ISBN 90-04-03813-2.
* Lewis, Bernard (1993). Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East. Open Court. ISBN 978-0-8126-9217-4.
* Lewis, Bernard (1994). Islam and the West. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-509061-1.
* Lewis, Bernard (1996). Cultures in Conflict: Christians, Muslims, and Jews in the Age of Discovery. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-510283-3.
* Mubarkpuri, Saifur-Rahman (2002). The Sealed Nectar: Biography of the Prophet. Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-1-59144-071-0.
* Najeebabadi, Akbar Shah (2001). History of Islam. Dar-us-Salam Publications. ISBN 978-1-59144-034-5.
* Nigosian, S. A. (2004). Islam: Its History, Teaching, and Practices (edisi ke-New Edition). Indiana University Press. ISBN 978-0-253-21627-4.
* Rahman, Fazlur (1979). Islam (edisi ke-2nd). University of Chicago Press. ISBN 0-226-70281-2.
* Walker, Benjamin (1998). Foundations of Islam: The Making of a World Faith. Peter Owen Publishers. ISBN 978-0-7206-1038-3.

[sunting] Pranala luar
Portal.svg Portal Islam
Search Wikimedia Commons Wikimedia Commons memiliki galeri mengenai:
Islam
Search Wikibooks Wikibooks memiliki buku bertajuk
Islam

* (id) Majelis Ulama Indonesia (MUI)
* (id) Portal Informasi Halal & Ekonomi Syariah MUI - Halal Guide
* (id) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
* (id) Pusat Kajian Islam
* (id) Studi Informasi Alam Islami (SINAI)
* (id) Badan Amil Zakat, Infak dan Sedekah (BAZIS) DKI Jakarta
* (de) Islam di Eropa Barat
* (id) Ensiklopedia Islam
* (id) Media Islam

LinkFA-star.png

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"
Kategori: Agama | Islam | Kepercayaan
Kategori tersembunyi: Artikel mengandung aksara Arab | Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan | Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Februari 2011
Peralatan pribadi

* Masuk log / buat akun

Ruang nama

* Halaman
* Pembicaraan

Varian

Tampilan

* Baca
* Sunting
* Versi terdahulu

Tindakan

* ↑

Cari
Cari
Navigasi

* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang

Komunitas

* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan

Wikipedia

* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang

Cetak/ekspor

* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak

Kotak peralatan

* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini

Bahasa lain

* Acèh
* Afrikaans
* Alemannisch
* አማርኛ
* Aragonés
* Ænglisc
* العربية
* ܐܪܡܝܐ
* مصرى
* Asturianu
* Авар
* Azərbaycanca
* Башҡортса
* Boarisch
* Žemaitėška
* Bikol Central
* Беларуская
* ‪Беларуская (тарашкевіца)‬
* Български
* Bislama
* Bahasa Banjar
* Bamanankan
* বাংলা
* བོད་ཡིག
* Brezhoneg
* Bosanski
* ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ
* Català
* Cebuano
* کوردی
* Corsu
* Qırımtatarca
* Česky
* Чӑвашла
* Cymraeg
* Dansk
* Deutsch
* Zazaki
* ދިވެހިބަސް
* Ελληνικά
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* Euskara
* Estremeñu
* فارسی
* Suomi
* Võro
* Føroyskt
* Français
* Arpetan
* Furlan
* Frysk
* Gaeilge
* Gàidhlig
* Galego
* ગુજરાતી
* هَوُسَ
* Hak-kâ-fa
* Hawai`i
* עברית
* हिन्दी
* Fiji Hindi
* Hrvatski
* Hornjoserbsce
* Kreyòl ayisyen
* Magyar
* Հայերեն
* Interlingua
* Interlingue
* Igbo
* Ilokano
* Ido
* Íslenska
* Italiano
* 日本語
* Lojban
* Basa Jawa
* ქართული
* Taqbaylit
* Kongo
* Қазақша
* Kalaallisut
* ភាសាខ្មែរ
* ಕನ್ನಡ
* 한국어
* Къарачай-Малкъар
* Kurdî
* Kernowek
* Кыргызча
* Latina
* Ladino
* Lëtzebuergesch
* Лакку
* Limburgs
* Líguru
* Lumbaart
* Lingála
* Lietuvių
* Latviešu
* Basa Banyumasan
* Македонски
* മലയാളം
* Монгол
* मराठी
* Bahasa Melayu
* Malti
* Mirandés
* မြန်မာဘာသာ
* مازِرونی
* Nāhuatl
* Plattdüütsch
* Nedersaksisch
* नेपाली
* नेपाल भाषा
* Nederlands
* ‪Norsk (nynorsk)‬
* ‪Norsk (bokmål)‬
* Novial
* Nouormand
* Occitan
* Иронау
* Papiamentu
* Deitsch
* Norfuk / Pitkern
* Polski
* پنجابی
* پښتو
* Português
* Runa Simi
* Rumantsch
* Română
* Armãneashce
* Русский
* Русиньскый
* Kinyarwanda
* संस्कृत
* Саха тыла
* Sardu
* Sicilianu
* Scots
* سنڌي
* Sámegiella
* Srpskohrvatski / Српскохрватски
* සිංහල
* Simple English
* Slovenčina
* Slovenščina
* Soomaaliga
* Shqip
* Српски / Srpski
* Basa Sunda
* Svenska
* Kiswahili
* Ślůnski
* தமிழ்
* తెలుగు
* Тоҷикӣ
* ไทย
* Türkmençe
* Tagalog
* Tok Pisin
* Türkçe
* Татарча/Tatarça
* ئۇيغۇرچە / Uyghurche‎
* Українська
* اردو
* O'zbek
* Vèneto
* Tiếng Việt
* West-Vlams
* Walon
* Winaray
* Wolof
* 吴语
* Хальмг
* ייִדיש
* Yorùbá
* 中文
* 文言
* Bân-lâm-gú
* 粵語

* Halaman ini terakhir diubah pada 15:06, 19 Februari 2011.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

* Kebijakan privasi
* Tentang Wikipedia
* Penyangkalan

* Wikimedia Foundation
* Powered by MediaWiki

HIV

Ribuan Orang di Dunia telah Mencoba & Merasakan Manfaat 4life Transfer Factor, apa kata mereka?
Apakah Transfer Factor itu?
Mengapa Anda Sakit?
Tanya Jawab Seputar TF


Apakah Penyakit HIV/AID itu?
Pendapat Dokter Tentang TF
Proses Pembuatan TF
Bagaimana Mendapatkan TF

Penyakit AIDS yaitu suatu penyakit yang timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia. Virus HIV menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun atau dikenal dengan infeksi oportunistik. virus ini juga merusak otak dan sistem saraf pusat.
Cara Menjadi Member

Info Kesehatan & Bisnis 4Life
DISTRIBUTOR 4LIFE




Seseorang yang terinfeksi HIV tidak langsung menampakkan gejalanya, sehingga orang yang terinfeksi bisa hidup normal dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun untuk sampai pada stadium munculnya gejala klinis. Hal ini merupakan salah satu penyebab penderita baru mengetahui dirinya terinfeksi HIV setelah berkembang menjadi AIDS karena penderita baru memeriksakan diri bila sudah timbul gejala-gejala klinis.

Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV.

Kematian yang disebabkan infeksi HIV kebanyakan bukan karena infeksi virus, melainkan karena turunnya kekebalan tubuh si penderita tersebut.
Testimoni / Pengobatan Penyakit dengan 4life Transfer Factor

Asma

Ginjal

Hipertensi



Orang yang terinfeksi HIV belum tentu menjadi penderita AIDS, tergantung tingkat imunitas atau kekebalan tubuh orang tersebut yang dapat dilihat melalui komponen CD4. Jika terjadi penurunan CD4 sampai kurang dari 200, orang akan makin lemah daya tahan tubuhnya dan jatuh pada kondisi AIDS.

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Kematian yang disebabkan infeksi HIV kebanyakan bukan karena infeksi virus, melainkan karena turunnya kekebalan tubuh si penderita tersebut.
HIV/AIDS

Autis

Luka
Lupus

Migrain

Sinusitis
Tumor

Hepatitis

Bronchitis
Prostat

Kehamilan

Hipertensi
Elergi

Diabetes

Jantung

Rematik

Kanker Kulit

Kanker Kolon

Kanker Payudara

Kanker Tyroid

BALITA
Bagaimana Pengalaman Penderita HIV yang Mengkonsumsi Transfer Factor?
Penyakit Kulit

Kanker Paru-Paru

Diet Sehat



Kami pernah merawat seorang anak yang tadinya seorang penderita HIV selama 11 tahun. Beberapa tahun terakhir kami beri transfer factor yang dikombinasikan dengan zinc, maitake and shiitake mushrooms, thymic factors, IP6, cordyceps, and beta glucans. Sebelumnya terapi retro-viral dan terapi toxic retro-viral tidak membuahkan hasil. Akan tetapi setelah 13 bulan di beri campuran diatas dengan dosis tinggi, HIV anak tersebut negatif dan sekarang sudah benar-benar normal. Kualitas hidupnya benar-benar meningkat drastis, seperti inilah pengobatan modern seharusnya menurut saya. Ini benar-benar menyenangkan.

R. R., Medical Doctor, Kentucky www. compre4life.com
Infeksi

Pneumonia


PELUANG BISNIS 4LIFE
Bagaimana Pengobatan/Terapi Terhadap HIV/AIDS?
Kebanyakan kasus Virus HIV itu sendiri tidak bisa dimatikan akan tetapi ia bisa dilumpuhkan. Jika virus telah lumpuh, penderita harus tetap menjaga staminanya agar sistem kekebalan tubuhnya bisa membuat virus tetap lumpuh.
Artikel Kesehatan Transfer Factor


Terapi atau pengobatan HIV/AIDS dengan transferfactor dapat meningkatkan sel-sel CD3, CD4 dan CD8. Sel-sel imun tersebut adalah sel yang diserang oleh virus HIV. Dengan meningkatknya sel-sel imun tersebut, maka daya tahan tubuh penderita pun menguat.

Para penderita HIV dapat menggunakan transfer factor plus dan tranfer factor advance. Untuk mencapai hasil yang maksimal dapat mengkombinasikannya dengan transfer factor riovida.
Pengobatan & Pencegahan Infeksi dan Radang Gendang Telinga dengan TF
hiv Waspada Flu Burung dengan TF
virus hiv dan aids

virus hiv dan aids

transfer factor plus
Alt= Riset TF Terhadap Kanker
transfer factor plus Pengobatan & Pencegahan Sinusitis Dg Transfer Factor dan Jahe

4Life Terpilih Sebagai Best of The Best Multilevel Marketing System dari 342 Program yang ada di Dunia


Transfer factor plus

Transfer factor advance

Transfer factor riovida



Berapa Banyak Jumlah Yang Harus diKonsumsi?


* Untuk pencegahan atau penderita yang memiliki CD4 diatas 800 sel per mili meter kubik dapat menggunakan dosis botol yaitu 3 x 1 sehari untuk transfer factor plus, atau 2 x 1 untuk transfer factor advance
* Untuk pengobatan/terapi, jumlah yang dikonsumsi tergantung dari kondisi penderita atau tingkat kerusakan sel imun yang sudah terjadi.


Berapa Harga Transfer Factor Plus, Transfer Factor Advance dan Transfer Factor Riovida?


* Harga member transfer factor plus adalah Rp. 810.000 isi 90 kapsul, untuk terapi jangka panjang sebaiknya mengambil paket hemat yaitu paket 5+1 (pembelian lima botol gratis satu botol, hemat Rp. 810.000)
* Harga member transfer factor advance adalah Rp. 595.000 isi 60 kapsul, untuk terapi jangka panjang sebaiknya mengambil paket hemat yaitu paket 5+1 (pembelian lima botol gratis satu botol, hemat Rp. 595.000)
* Harga member transfer factor riovida adalah Rp. 510.000 isi 15 sachet.



Baca lebih lanjut tentang HIV/AIDS....HIV/AIDS tak lagi mematikan, bagaimana mengenali gejala-gejala infeksi HIV/AIDS



Optimalkan Kesehatan Anda Karena KESEHATAN Adalah INVESTASI Yang Tak Ternilai, Segera bergabung menjadi member Transfer Factor Indonesia, DAFTAR& Buktikan Manfaatnya Untuk Kesehatan Anda


INFORMASI

* PRODUK
* PEMESANAN
* PENDAFTARAN MEMBER

Email : fitri@4life-4transferfactor.com

Telp : fitri 0878 9424 7850 / 081 372 828 310







4Life TransferFactor dapat membantu anda dalam pengobatan penyakit-penyakit berikut

Autoimun, Alergi, Alzheimer, Ambeien, Arthritis, Asam Urat, Asma, Autis, Batuk, Bronchitis, Ginjal, Campak, Kista, Darah Tinggi ( hipertensi)/Rendah , Demam Berdarah, Demam / Flu, Diabetes Tipe 1, Diabetes Tipe 2 (gangguan pada pankreas), Eksim, Flu Burung, Hepatitis, Herpes, Hiv Aids, Infeksi Lever, Infeksi Mata, Infeksi Paru-paru, Infeksi Usus, obat autis, Infeksi Virus, Jerawat, Kanker/Tumor, Leukimia, Lupus, Maag (gangguan metabolisme), Menopause, Migraine, Multiple Sclerosis, Myom, Neurogical Disease, Nyeri Badan /Otot, Jantung Penyakit, Obesitas/Kegemukan, Parastic Disease, Parkinson, Jantung Koroner, Prostat, Maag (gangguan metabolisme) Psoriasis, Rematik, Sakit Kulit, SARS, Sinusitis, Step, Stroke, Tbc, Thyroid, Varises, Vertigo, penyakit kelamin, Kolesterol, membersihkan dan melancarkan peredaran darah serta sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, pengobatan autis dengan transfer factor advance, menjaga kesehatan anak dengan transfer factor chewable.


4life transfer factor dapat menjadi pengobatan alternatif anda...DAFTAR JADI MEMBER & DAPATKAN HARGA MEMBER




Copyright by 4Life-4Transfefactor.com@2009