Translate

Kamis, 03 Maret 2011

coba-coba

Merusak Citra Islam di Mata Orang Islam
Diposting pada , 00-00-0000 | 00:00:00 WIB

Memasuki tahun baru 1429 H / 2008 M, kondisi Indonesia bagai berdiri di tepian jurang pada malam gelap gulita. “kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (TQS. Ar Rum, 30: 41), benar-benar nyata adanya.

Seakan berbagi musibah, hampir seluruh wilayah negeri ditimpa bencana: banjir, tanah longsor, epidemik demam berdarah, flu burung, busung lapar, lumpuh layu, kurang gizi. Sehingga banyak orang kehilangan rumah dan harta bendanya, ditinggal mati suami, istri, atau anaknya. Diantara mereka, ada yang biasa melindungi dari sengatan panas di musim panas atau dinginnya musim dingin. Adakah yang peduli dengan rintihan mereka?

Faktanya, diamuk badai derita, para penguasa negeri ini belum juga sadar. Kerusakan moral, korupsi, kemiskinan, perzinahan, fitnah, oportunisme, narkoba, dan khomr berintegrasi di tubuh para penyelenggara negara. Mereka belum mau tunduk pada aturan Allah SWT.

K.H. Wahid Hasyim memprediksi kemerosotan masyarakat Indonesia merdeka, terjadi setelah agama tidak lagi dipedulikan. “Dahulu, para ulama cukup menunjukkan sesuatu itu haram dikerjakan, umat tidak mengerjakannya. Sekarang, umat sudah tidak peduli terhadap agamanya, maka kata-kata penyeru agama juga tidak diperhatikan,” katanya. (Prihidup K.H. Wahid Hasyim, Karangan Abu Bakar Atjeh)

Merusak Citra Islam

Inilah manusia Indonesia. “Manakala mereka melihat jalan ke arah petunjuk yang benar, mereka tidak mau menempuh jalan itu. Tetapi, jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka mengikuti jalan tersebut. Demikianlah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami.” (TQS. Al A’raf 7: 146)

Segala petunjuk Islam yang diharapkan mampu mengatasi problem kronis ini tidak saja diabaikan, tetapi justru dirusak citranya dengan segala stigma jahat. Islam didefinisikan menurut faham liberal, bahkan sebagian orang dengan lantang menyuarakan, “Islam akan mati jika tidak berhubungan dengan demokrasi.” Amerika dan antek-antek sekuler menggambarkan citra Islam serba negatif dan menakutkan, kecuali Islam yang bersahabat dengan Barat. Yaitu Islam ritual yang dimandulkan dari aturan syariah dan militansi jihad fi sabilillah.

Merusak citra Islam di mata orang Islam, itulah yang mereka lakukan. Citra Islam diperkenalkan sebagai ancaman bagi Demokrasi, HAM, dan Pluralisme. Hal ini berpengaruh sangat krusial terhadap kehidupan sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Mereka memilih dan memilah manakah dari ajaran Islam, bila diamalkan tidak menyinggung rasa kemanusiaan, tidak dianggap radikal atau mengancam aliran sesat. Melepaskan grafitasi syariah dan jihad dari tubuh umat Islam, menyebabkan bobot mereka kian ringan di hadapan missionaris kafir. Ibarat buih yang mengapung di atas permukaan gelombang, mudah dipermainkan dan dimurtadkan.

Tidak sedikit orang Islam yang percaya, keadilan sosial bagi rakyat Indonesia akan tercapai hanya dengan demokrasi. Perekonomian Indonesia akan maju apabila kapitalisme global yang menghalalkan riba dan menjual barang haram jadi sistem ekonomi negara. Kemajuan teknologi hanya bisa diraih bila menggunakan sistem hidup minus embel-embel agama. Mereka merasa lebih nyaman menjadi nasabah demokrasi ketimbang sebagai mujahid atau ulama yang konsisten dengan syariat Islam. Para nasabah inilah yang menanam sinisme dan ketakutan terhadap syariat Islam sebagai deposito sosialnya.

Dalam dialog interaktif, ISLAM Dan DEMOKRASI: West Meet East Connection, yang ditayangkan Metro TV, 5 Desember 2007, Pkl. 20.00 WIB, yang kemungkinan disaksikan jutaan pemirsa dari barat dan timur, dua orang narasumber kontributor Islam liberal, Prof. Dr. Amien Rais dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, secara apriori mengeluarkan statement menyesatkan, “Demokrasi adalah sistem terbaik bagi masyarakat modern. Kami puas dengan Pancasila, karena itu kami menolak negara syariah dan menerima negara Pancasila.” kata Amien Rais.

Politisi yang gagal menjadi presiden RI itu terjebak dalam pusaran nafsu opportunisme, dan secara vulgar mengeluarkan statement yang tidak pernah diucapkan oleh para nabi, atau ulama shaleh di kalangan salaf maupun khalaf. Demokrasi adalah berhala ideologi yang secara pongah menjadi kuda tunggangan kaum imperialis untuk menekan negara–negara berpenduduk mayoritas Islam. Ambisi apa yang mendorong Pak Amien memposisikan agama lebih rendah dari demokrasi? Akibatnya, solusi apapun yang ditawarkan untuk mengatasi problem bangsa berujung pada “bertanya dulu pada ‘tuhan demokrasi’ yaitu kehendak rakyat dengan hawa nafsu sebagai kitab sucinya.

Nasib Indonesia terbukti kian sengsara, setelah mengikuti anjuran para penyesat agama itu. Produksi maksiat dan kemungkaran kian kondusif dan parah. Pemerintah, bahkan rakyat sendiri cenderung memperparah keadaan. Mereka berupaya mengatasi kemungkaran dengan kemungkaran. Mereka ingin memberantas pelacuran, maka sediakanlah lokalisasi pelacuran. Bermaksud menjaga kebersihan dan kedisplinan warga dengan menggusur pedagang kaki lima, tanpa menyediakan sarana prasarana sosial yang memadai. Menangkap para pemabuk, tapi membiarkan pabrik minuman keras beroperasi dan menerima pajak cukup besar dari pabrik itu.

Selamatkan generasi muda dari kerusakan akhlak, perilaku seks bebas, dan narkoba tetapi mereka justru membiarkan pornografi dan pornoaksi merajalela. Para artis mengadakan penyuluhan anti AIDS/HIV, tapi mendukung kontes ratu bencong dan mengalakkan kawin sejenis. Semua itu dilakukan di bawah payung demokrasi.

Mengatasi kemungkaran dengan kemungkaran adalah karakteristik demokrasi. Itulah sebabnya Allah SWT belum menurunkan pertolongan-Nya.

“ Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan yang mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat itu. Kamu lihat kebanyakan dari mereka tolong menolong dengan orang-orang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (TQS 5:89-80). (fkr_kreatif).

Source: Majalah Risalah Mujahidin Edisi 15 / Muharram 1429 H / Jan-Feb 2008 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar